Cara Cerdas Belanja Baju Tanpa Ikut Fast Fashion

Senin, 12 Januari 2026 13:51 WIB

Penulis:Redaksi Daerah

Editor:Redaksi Daerah

9 Cara Belanja Baju untuk Menghindari Fast Fashion
9 Cara Belanja Baju untuk Menghindari Fast Fashion (freepik.com)

JAKARTA – Fast fashion kerap menuai kritik, namun pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar berupaya menghindarinya dalam keseharian?

Hampir tidak ada orang yang dengan sadar memilih pakaian berkualitas rendah atau mengandung bahan kimia berbahaya. Meski begitu, banyak yang belum menyadari bahwa sejumlah merek ternama masih memberikan upah yang tidak layak kepada pekerja, bahkan melibatkan pekerja anak dalam proses produksinya.

Dilansir dari Going Green Solutions, pakaian tersebut dibeli karena harganya terjangkau atau tampilannya menarik, padahal kenyataannya produk seperti ini tidak dibuat untuk bertahan lama. Daripada menunggu perusahaan tidak etis untuk berubah, lebih baik mulai bersikap tegas dengan menerapkan beberapa tips berikut agar dapat sepenuhnya menghindari fast fashion.

Tips untuk Menghindari Fast Fashion

Berikut beberapa tips menghindari fast fashion:

1. Buat Daftar Belanja

Salah satu masalah lingkungan terbesar adalah banyaknya sampah yang dihasilkan setiap rumah tangga setiap tahunnya.  Adapun, salah satu cara untuk mengurangi sampah yang tidak perlu adalah dengan memastikan bahwa kamu hanya membeli barang yang benar-benar dibutuhkan dan pasti akan digunakan.

Jika kamu sering tergoda membeli secara impulsif, membuat daftar belanja dan merencanakan pembelian sebelum pergi ke toko dapat membantu, sehingga makanan tidak terbuang karena basi atau tidak sempat dikonsumsi.

2. Beli Barang Bekas (Secondhand)

Ilustrasi wanita sedang mencoba barang thrifting. (freepik.com)

Seiring meningkatnya permintaan konsumen, industri fast fashion terus memproduksi pakaian murah dan mengikuti tren yang hanya bertahan beberapa bulan atau satu musim saja. Akibatnya, banyak pakaian akhirnya menumpuk di toko barang bekas. Namun, ketika sudah tidak tren, barang-barang tersebut jarang dibeli kembali dan berisiko berakhir di tempat pembuangan sampah.

Dilansir dari kiwienergy.us, bukan hanya pakaian yang sering dibuang. Peralatan rumah tangga, barang elektronik, buku, mainan, dan berbagai perlengkapan lainnya juga kerap disingkirkan demi mengganti dengan yang baru.

Berbelanja di toko barang bekas tidak hanya lebih ramah di kantong, tetapi juga membantu mengurangi permintaan akan produk baru serta mencegah barang-barang yang masih layak pakai berakhir di tempat sampah. Banyak toko secondhand juga bekerja sama dengan lembaga sosial atau amal, sehingga uang yang kamu belanjakan sekaligus memberi manfaat bagi komunitas.

3. Belanja Produk Lokal

Produsen menggunakan banyak sumber daya tak terbarukan untuk mengoperasikan gudang dan armada pengiriman mereka. Pengiriman barang lintas laut bahkan menghabiskan lebih dari 300 juta ton bahan bakar fosil dan menyumbang hingga 3% emisi gas rumah kaca global setiap tahunnya.

Solusinya adalah berbelanja secara lokal. Koperasi pangan komunitas, pasar petani, serta toko fisik milik pengusaha lokal membutuhkan jauh lebih sedikit bahan bakar untuk memindahkan produk dari sumbernya langsung ke rak penjualan.

4. Pikirkan untuk Jangka Panjang

Tidak semua produk dibuat agar tahan lama, begitu pula tidak semua pembelian dilakukan dengan mempertimbangkan pemakaian jangka panjang. Jika kamu sering membeli barang yang hanya digunakan sekali atau dibuang setelah sebuah acara, ada baiknya mulai melihat dampaknya secara lebih luas.

Dalam menerapkan kebiasaan belanja yang ramah lingkungan, usahakan memilih barang yang bisa digunakan dalam waktu lama, bahkan seumur hidup.

Meski harus menabung sedikit lebih lama demi kualitas dan daya tahan yang lebih baik, pilihan ini akan lebih menguntungkan. Beberapa barang seperti peralatan masak berkualitas, mainan yang kokoh, dan pakaian yang dibuat dengan baik bahkan bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

5. Dukung Merek yang Berkelanjutan

Seiring meningkatnya permintaan terhadap produk ramah lingkungan, kini tersedia berbagai uji independen dan sertifikasi yang dapat membantu memastikan bahwa produk yang dibeli benar-benar berkelanjutan, bukan sekadar strategi pemasaran atau greenwashing.

Utamakan membeli produk dari merek yang memiliki komitmen terhadap keberlanjutan dan praktik etis. Telusuri dan pilih merek yang benar-benar menghargai hak asasi manusia serta menerapkan standar ketenagakerjaan yang bertanggung jawab.

Sertifikasi hijau ini menandakan bahwa suatu produk dihasilkan oleh perusahaan yang berkomitmen pada praktik ramah lingkungan, seperti penghematan air, penerapan standar tenaga kerja yang adil, penggunaan bahan kimia yang aman, material organik, serat yang lebih ramah bumi, serta efisiensi energi.

6. Perawatan Pakaian yang Baik

Merawat pakaian dengan baik akan membuatnya lebih awet dan tahan lama. Mempelajari cara melakukan perbaikan sederhana juga dapat membantu menghemat pengeluaran sekaligus mengurangi jumlah limbah.

7. Sewa atau Tukar Pakaian

Menyewa pakaian atau saling bertukar pakaian dengan teman bisa menjadi cara efektif untuk menyegarkan isi lemari tanpa harus membeli yang baru. Selain itu, kebiasaan ini turut membantu menekan konsumsi produk baru.

Bertukar pakaian adalah cara yang bagus untuk mengubah gaya berpakaian Anda sambil menghemat uang dan melindungi lingkungan. Jika Anda tidak mengenal siapa pun yang seukuran dengan Anda, cari grup Facebook online di daerah Anda untuk melihat apakah ada yang bersedia bertukar pakaian.

8. Hindari Bahan Murah

Bahan sintetis seperti poliester, akrilik, dan nilon murah untuk diproduksi dan umum digunakan dalam fesyen cepat. Selain merupakan bahan yang membutuhkan banyak energi dan menggunakan bahan kimia beracun, bahan-bahan ini melepaskan serat selama siklus pencucian , yang dikenal sebagai mikroplastik. Mikroplastik ini masuk ke saluran pembuangan dan mencemari lingkungan.

Perhatikan label pakaian dan pilih barang yang terbuat dari serat alami seperti wol, katun, rami, atau sutra. Jika Anda ingin memilih bahan sintetis, cari produk yang terbuat dari barang daur ulang seperti botol air.

9. Daur Ulang dan Manfaatkan Kembali Pakaianmu

Sekalipun kamu pernah terjebak dalam perangkap fast fashion di masa lalu, kamu tetap dapat memilih untuk mendaur ulang dan menggunakan kembali barang-barang yang sudah ada. Carilah inspirasi kerajinan di situs-situs seperti Pinterest dan YouTube. Setelah barang-barang tersebut usang, beralihlah ke produk-produk berkelanjutan untuk memutus siklus tersebut.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 11 Jan 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 12 Jan 2026