Investasi
Selasa, 14 Juli 2026 20:22 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA — Ketika berinvestasi, kita perlu cermat dalam memutuskan sesuatu, termasuk saat memikirkan risikonya. Namun, ada kalanya kita salah mengambil keputusan dan kehilangan peluang yang sebenarnya menguntungkan gara-gara lebih percaya pada informasi yang mendukung keyakinan kita.
Inilah yang dimaksud dengan confirmation bias, suatu bias dalam investasi yang membuat kita terus mempertahankan saham atau instrumen investasi yang sebetulnya memiliki kinerja buruk dan menutup mata terhadap berbagai tanda peringatan atau red flag.
Kita seolah selalu yakin bahwa harga saham akan naik kembali meski kondisi pasar sudah menunjukkan yang sebaliknya.
BACA JUGA: 8 Mata Uang Paling Banyak Diperdagangkan di Dunia, Tertarik Buat Investasi?
Padahal, saat pasar terus berubah, confirmation bias ini justru bisa menghambat kemampuan investor untuk beradaptasi dengan situasi dan informasi baru.
Seperti yang dilansir dari Yahoo Finance, confirmation bias adalah kecenderungan kita untuk terus mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi yang memperkuat keyakinan atau pendapat yang sudah dimiliki sejak awal.
Dalam dunia investasi, hal ini tentu berbahaya. Bias psikologis seperti ini bisa membuat kamu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak lengkap, kurang relevan, atau yang salah kamu pahami.
Akibatnya, asumsi yang keliru kamu pahami ini justru semakin menguat dan akhirnya berujung pada keputusan investasi yang buruk.
BACA JUGA: 4 Investasi Minim Risiko Selain Deposito, Cocok Buat Pemula!
Saat kamu terkena confirmation bias, maka kamu akan mencoba mencari dan menafsirkan segala informasi yang mendukung pilihan saham atau strategi investasi favorit andalanmu.
Misalnya, saat ini kamu yakin bahwa saham di bidang teknologi akan terus naik, karena berdasarkan berita positif tentang perusahaan teknologi. Di sisi lain kamu justru mengabaikan sinyal bahwa pasar sedang melemah.
Cara berpikir yang selektif inilah yang membuat kamu jadi terlalu percaya diri dalam setiap prospek investasi. Dampaknya, portofoliomu jadi kurang terdiversifikasi dan risiko investasi jadi semakin meningkat.
Bias ini akan membuatmu kehilangan peluang investasi baru dan saat kondisi pasar sudah bergejolak, kamu justru tetap berpegang pada keyakinan awal, sehingga waktu membeli dan menjual aset jadi kurang tepat.
BACA JUGA: Gara-gara Rupiah Rp18.000, Kini Petani Hadapi Beban Berlapis!
Jangan hanya mengandalkan satu media, analis, atau influencer investasi. Carilah informasi dari berbagai sumber yang akurat dan kredibel, termasuk yang memiliki pendapat berbeda dari keyakinanmu.
Buat aturan saat sebelum belia set. Misalnya, kamu membeli berdasarkan rasio keuangan, tren industri atau kondisi tertentu.
Memiliki kriteria tertentu sebelum membeli aset akan membantumu mengurangi pengaruh emosi dan bias ketika mengambil keputusan.
BACA JUGA: Perbandingan Harga Pertamax Indonesia vs ASEAN, RI Paling Mahal!
Lakukan evaluasi secara rutin terhadap portofolio investasimu secara objektif. Periksalah apakah ada investasi yang masih sesuai tujuan dan strategi awal.
Kalau tidak memenuhi target, jangan ragu untuk melakukan penyesuaian atau menyeimbangkan kembali portofolio.
Kamu bisa berkonsultasi dengan penasihat keuangan karena mereka bisa memberikan sudut pandang yang lebih objektif mengenai keputusan yang kamu ambil.
Mereka juga bisa membantu menguji asumsimu sekaligus menawarkan alternatif strategi investasi yang mungkin belum kamu pertimbangkan.
Sadari bahwa setiap orang tentu memiliki bias dan tetap ada cara untuk mengatasinya.
Luangkan waktu untuk melakukan evaluasi cara berpikir dan proses pengambilan keputusan. Dengan mengenali pola confirmation bias, kamu bisa lebih mudah mengoreksi dan menghindarinya di masa depan.
Itu tadi penjelasan soal confirmation bias yang bisa menjebak kita membuat keputusan keliru dalam investasi dan cara menghindarinya.
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh pada 14 Jul 2026