inflasi
Kamis, 07 Mei 2026 16:57 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA - Angka inflasi April 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) segera diumumkan. Para ekonom memperkirakan inflasi akan melandai ke kisaran 2,39% hingga 2,84%, lebih rendah dibandingkan Maret yang sempat mencapai 3,48%. Secara angka, ini terlihat sebagai kabar positif.
Namun jika melihat pengalaman belanja masyarakat bulan lalu, gambarnya mungkin terasa sedikit berbeda. Penurunan inflasi April 2026 memang diperkirakan terjadi seiring meredanya lonjakan konsumsi saat Ramadan dan Lebaran. Tekanan harga pangan yang menurun menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi.
Berdasarkan data BPS, sejumlah komoditas seperti ayam, telur, dan cabai memang mengalami penurunan harga. Tetapi pertanyaannya, penurunan itu terjadi setelah sebelumnya naik sampai level berapa?
Turun? Iya, murah? Belum tentu.
Ini pola yang sering luput dari headline, berdasarkan definisi inflasi dari BPS dan Bank Indonesia serta konsep dalam literatur makroekonomi, inflasi mengukur laju kenaikan harga, bukan levelnya. Ketika inflasi turun, harga belum tentu turun, hanya naik lebih lambat.
Selama harga kebutuhan pokok masih lebih tinggi dibanding sebelum Lebaran dan tidak diimbangi kenaikan pendapatan, daya beli rumah tangga cenderung tetap tertekan.
Baca juga : UMR Naik di Atas Inflasi, Kenapa Kita Masih Sering Bokek?
Meski inflasi terlihat melandai, ada tiga faktor yang berpotensi mendorong harga kembali naik, energi, rupiah, dan pangan. Efeknya tidak selalu langsung, tapi bertahap masuk ke harga barang dan jasa.
Rinciannya:
Tekanan harga belum benar-benar reda, yang terlihat di data inflasi sekarang bisa jadi masih “tenang di permukaan”, sementara tekanan utamanya baru akan muncul bertahap di bulan berikutnya.
Baca juga : LQ45 Index Hari Ini Senin, 04 Mei 2026 Dibuka Naik ke 671,55 Poin
Ini konteks yang penting dipahami, BPS menjelaskan lonjakan inflasi tahunan pada Januari-Februari 2026 yang masing-masing mencapai 3,55% dan 4,76% sebagian besar dipicu low base effect, bukan karena ekonomi benar-benar panas.
Diskon tarif listrik yang diberikan awal 2025 membuat angka pembanding tahun lalu terlalu rendah, sehingga inflasi 2026 terlihat melonjak tajam secara statistik.
Sekarang efek itu mulai hilang, inflasi turun bukan karena harga turun, tapi karena basis perbandingannya sudah normal kembali. Yang perlu kamu perhatikan bulan ini bukan angka inflasi headline-nya, melainkan tiga hal ini:
Inflasi turun memang kabar baik, tapi turun ke angka yang masih di atas target, dari puncak yang dipicu faktor statistik, di tengah tekanan energi yang belum selesai, bukan kemenangan yang perlu dirayakan dulu.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 04 May 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 07 Mei 2026