Usai BI Rate Baru, Rupiah Masih Tertekan oleh Sentimen Pasar

Kamis, 23 Juli 2026 10:31 WIB

Penulis:Redaksi Daerah

Editor:Redaksi Daerah

Waspada Rupiah Melemah Lagi, Pasar Cerna BI Rate Baru
Waspada Rupiah Melemah Lagi, Pasar Cerna BI Rate Baru (null)

JAKARTA —Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Kamis, 23 Juli 2026. Mengacu pada data Bloomberg, mata uang Garuda dibuka di posisi Rp17.917 per dolar AS, turun 29 poin atau sekitar 0,16% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang telah terjadi sehari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Rabu, 22 Juli 2026, rupiah juga terkoreksi 29 poin atau 0,16% hingga berakhir di level Rp17.888 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat, seiring berlanjutnya sentimen eksternal yang mendorong penguatan dolar AS di pasar keuangan global.

BACA JUGA: Menguak Efek Domino Subsidi Energi yang Gerogoti APBN, Bagaimana Nasib WNI?

Pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di kawasan Teluk Persia yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi global. Kenaikan risiko geopolitik mendorong harga minyak dunia tetap tinggi, sehingga memunculkan kekhawatiran tekanan inflasi kembali meningkat.

Kondisi tersebut turut memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed). Jika inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga energi, ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi akan semakin besar. 

Prospek itu menjadi salah satu faktor yang menjaga penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Di dalam negeri, perhatian investor tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diumumkan sehari sebelumnya. 

Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, sekaligus menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.

Keputusan tersebut menunjukkan Bank Indonesia masih memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan inflasi di tengah ketidakpastian global. Dengan mempertahankan suku bunga acuan, bank sentral berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Apa artinya bagi masyarakat?

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor apabila berlangsung dalam periode yang lebih panjang. Dampaknya berpotensi dirasakan pada harga bahan baku industri, produk elektronik, hingga sejumlah komoditas yang diperdagangkan menggunakan dolar AS.

Namun, keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate memberikan sinyal bahwa otoritas moneter masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Kebijakan tersebut diharapkan mampu meredam volatilitas rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali.

Bagi investor, perhatian kini tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta efektivitas langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Ketiga faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah rupiah dalam beberapa hari ke depan.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 23 Jul 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 23 Jul 2026