Jakarta
Kamis, 28 Agustus 2025 13:02 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah
JAKARTA – Pengelolaan sampah saat ini tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah semata atau petugas kebersihan. Seiring meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, hadir konsep bank sampah yang menghadirkan solusi inovatif: menukar sampah menjadi tabungan. Selain berkontribusi mengurangi volume sampah, sistem ini juga membuka peluang usaha yang potensial, terutama di kota-kota dengan produksi limbah harian yang tinggi.
Bank sampah adalah sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang bekerja layaknya bank, namun yang disetor bukan uang, melainkan sampah yang sudah dipilah. Warga atau nasabah menyetorkan sampah bernilai ekonomis—seperti plastik, kertas, logam, atau minyak jelantah—ke bank sampah. Setoran ini kemudian dikonversi menjadi saldo tabungan sesuai harga pasar. Sampah yang terkumpul dijual ke pengepul atau industri daur ulang, dan hasil penjualannya menjadi sumber pemasukan.
Konsep ini mulai populer di Indonesia sejak awal 2010-an, didorong oleh program pemerintah dan gerakan komunitas peduli lingkungan. Kini, banyak bank sampah yang mengadopsi sistem pencatatan digital, sehingga transaksi lebih transparan dan akuntabel.
Potensi pasar bank sampah cukup besar. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia menghasilkan sekitar 68,5 juta ton sampah per tahun. Sekitar 60% di antaranya masih bisa dimanfaatkan kembali. Dengan mengelola sampah bernilai jual, bank sampah bisa mendapatkan margin keuntungan 10–30% dari harga beli ke warga. Selain itu, bisnis ini berpeluang mendapat dukungan dana dari program CSR perusahaan, hibah lingkungan, atau kemitraan pemerintah.
Untuk skala kecil, modal awal berkisar Rp5–10 juta, meliputi timbangan digital, meja sortir, rak penyimpanan, dan gerobak angkut. Pendapatan bergantung pada volume sampah yang dikumpulkan. Misalnya, dengan 500 kg sampah plastik PET per bulan seharga Rp5.000/kg, omzet bisa mencapai Rp2,5 juta hanya dari satu jenis material.
Tantangan terbesar bank sampah adalah menjaga konsistensi setoran dari warga. Oleh karena itu, diperlukan jadwal pengumpulan yang teratur, insentif menarik, serta transparansi pengelolaan dana. Menambahkan layanan lain seperti pembuatan kompos dari sampah organik juga dapat memperluas sumber pendapatan.
Bank sampah adalah bentuk bisnis sosial yang menggabungkan kepedulian lingkungan dengan peluang ekonomi. Dengan perencanaan matang, dukungan komunitas, dan kemitraan strategis, bisnis ini bukan hanya membantu mengurangi beban sampah nasional, tetapi juga membuka lapangan kerja dan menambah pendapatan masyarakat.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Ananda Astri Dianka pada 15 Aug 2025
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 28 Agt 2025
4 hari yang lalu