Investor
Selasa, 05 Mei 2026 13:05 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA - Coba scroll sebentar di TikTok atau Twitter finansial, kamu bakal sering lihat orang pamer cuan besar dari saham. Tapi, berapa banyak dari mereka yang benar-benar ngerti cara hitung keuntungannya, termasuk biaya-biaya yang sering kelewat?
Sebelum asal pencet tombol “Beli” di aplikasi sekuritas, ada hal-hal dasar yang wajib kamu pahami. Ini bukan soal nebak harga naik atau turun, tapi soal hitungan sederhana yang menentukan apakah kamu benar-benar profit atau malah rugi.
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham dibeli dalam satuan yang disebut lot. Satu lot berisi 100 lembar saham. Kalau dulu minimal pembelian sampai 500 lot, sekarang cukup 1 lot saja, makanya investasi saham jadi jauh lebih ramah untuk pemula.
Ilustrasi sederhana:
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diperdagangkan di kisaran Rp9.000 per lembar.
Dengan uang hampir sejuta, kamu sudah bisa jadi pemegang saham salah satu bank terbesar Indonesia. Tapi ini belum selesai, ada komponen lain yang sering diabaikan pemula.
Baca juga : Saham DEWA 2026 : Laba Meledak, Harga Koreksi 50 Persen, Masih Layak Beli?
Setiap transaksi saham kena brokerage fee, biaya layanan broker/sekuritas yang langsung dipotong dari transaksimu. Besarannya bervariasi tergantung aplikasi yang kamu pakai,
Kelihatannya kecil. Tapi kalau transaksinya besar dan sering, angka ini bisa menggerus keuntungan secara signifikan.
Mari pakai contoh nyata dengan asumsi saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), salah satu saham paling likuid dan populer di BEI.
Skenario:
Langkah 1 - Hitung Total Modal Beli
Langkah 2 - Hitung Total Hasil Jual
Langkah 3 - Hitung Laba Bersih
Langkah 4 - Hitung ROI
Dalam 3 bulan, ROI 15% itu sangat solid. Tapi perlu diingat, ini skenario ideal. Harga bisa naik, bisa juga turun.
Baca juga : LQ45 Index Hari Ini Senin, 04 Mei 2026 Dibuka Naik ke 671,55 Poin
Skenario sama, tapi BBRI turun ke Rp4.100:
Turun Rp400 per lembar saja sudah bikin rugi hampir Rp420 ribu. Itulah kenapa simulasi sebelum masuk itu penting, supaya kamu tahu risiko konkretnya, bukan cuma mengandalkan harapan.
Setelah paham cara hitungnya, ada strategi dasar yang bikin kamu lebih disiplin:
1. Pakai "modal dingin" Uang yang diinvestasikan harus bukan dana kebutuhan harian, dana darurat, atau cicilan. Kalau terpaksa jual di harga rugi karena butuh uang mendadak, kamu sudah kalah sebelum bermain.
2. Pilih sekuritas dengan fee rendah Bedanya 0,15% vs 0,25% di fee beli terlihat kecil. Tapi kalau kamu trading aktif atau dalam jangka panjang, selisih ini bisa jutaan rupiah. Bandingkan fee sebelum daftar.
3. Terapkan DCA (Dollar Cost Averaging) Daripada taruh semua uang sekaligus, beli rutin dalam jumlah tetap setiap bulan, misalnya Rp500 ribu/bulan. Strategi ini meratakan harga beli sehingga kamu tidak all-in di puncak harga.
4. Catat semua transaksi Spreadsheet sederhana atau fitur portofolio di aplikasi sekuritas sudah cukup. Tanpa catatan, kamu tidak akan tahu apakah strategi yang dipakai benar-benar menghasilkan atau tidak.
Ini prinsip paling dasar manajemen risiko: diversifikasi. Kalau semua modal ditaruh di satu saham lalu perusahaan itu kena masalah, laporan keuangan buruk, kasus hukum, atau kondisi industri memburuk, kerugianmu tidak ada yang menahan.
Sebagai panduan awal, pemula bisa mulai dengan 3–5 saham dari sektor berbeda. Tidak perlu banyak, yang penting tidak terkonsentrasi di satu titik risiko.
Investasi saham bukan soal feeling atau ikut-ikutan. Satu keputusan beli yang tidak dihitung dengan benar bisa menggerus modal lebih besar dari yang kamu kira terutama kalau faktor biaya dan pajak diabaikan.
Rumus yang perlu kamu hafal cuma dua:
Dua rumus itu, plus kebiasaan catat dan diversifikasi, sudah cukup untuk jadi fondasi investor yang lebih rasional dari kebanyakan orang yang baru masuk pasar.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 05 May 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 05 Mei 2026