Daftar Perusahaan yang Kuasai Industri Rokok Indonesia, Siapa Nomor Satu?

Penguasa Bisnis Rokok di Indonesia, Ini Daftar Raja Industri Tembakau (imperial)

JAKARTA - Industri rokok masih menjadi salah satu penopang utama sektor manufaktur di Indonesia dengan nilai bisnis yang mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahunnya. Di tengah tantangan berupa kenaikan tarif cukai, melemahnya daya beli masyarakat, serta maraknya peredaran rokok ilegal, pasar rokok nasional tetap didominasi oleh segelintir perusahaan besar.

Meski diisi banyak pelaku usaha, pasar rokok nasional masih terkonsentrasi pada beberapa pemain besar. Data 2024 menunjukkan lima produsen rokok terbesar menguasai sekitar 92% dari total nilai produksi industri, dengan persaingan yang didominasi oleh HM Sampoerna, Gudang Garam, Djarum, Bentoel, dan Wismilak.

Lalu, siapa saja perusahaan yang mengendalikan industri rokok di Indonesia, dan seberapa besar kekuatan bisnis mereka?

BACA JUGA: 10 Kota Terbaik untuk Ditinggali di Dunia 2026, Ada yang di Asia?

HM Sampoerna Masih Menjadi Raja Pasar Rokok Nasional

PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) masih menjadi pemimpin pasar rokok di Indonesia. Perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Philip Morris Indonesia, afiliasi Philip Morris International (PMI) asal Amerika Serikat, terus mempertahankan dominasinya di tengah perlambatan industri.

Sepanjang 2025, pangsa pasar HM Sampoerna mencapai 30,7%, meningkat dibandingkan 27,4% pada 2024. Pada semester I-2025, pangsa pasarnya bahkan sempat menyentuh sekitar 31%.

Baca juga : Sustainability Bisa jadi Sumber Inovasi dan Peluang Bisnis

Meski demikian, volume penjualan perusahaan justru mengalami penurunan. Sepanjang 2025, penjualan tercatat sekitar 79,4 miliar batang, turun dibandingkan 80,8 miliar batang pada 2024 atau terkoreksi sekitar 3,7% secara tahunan.

Dominasi Sampoerna ditopang oleh kekuatan merek-merek utama di segmen Sigaret Kretek Mesin (SKM), yang menjadi kontributor terbesar industri rokok nasional. Pada 2024, pangsa pasar produk Sampoerna terdiri atas,

  • Sigaret Kretek Mesin (SKM): 56,2%
  • Sigaret Kretek Tangan (SKT): 34,1%
  • Sigaret Putih Mesin (SPM): 5,8%
  • Produk bebas asap: 1,4%

Selain bisnis rokok konvensional, perusahaan juga terus memperbesar bisnis produk tembakau bebas asap seperti IQOS yang mencatat pertumbuhan penjualan sekitar 34,3% pada semester I-2025.

Gudang Garam Masih Menjadi Penantang Terbesar

Posisi kedua masih ditempati PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Namun dalam beberapa tahun terakhir perusahaan menghadapi tekanan cukup besar. Pada 2024, pangsa pasar Gudang Garam turun menjadi 17,4%, jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 27,1% pada 2021.

Penjualan perusahaan juga mengalami penurunan signifikan. Volume penjualan sepanjang 2024 tercatat sekitar 53,14 miliar batang, merosot 13,5% dibandingkan tahun sebelumnya sekaligus menjadi level terendah dalam lebih dari satu dekade.

Penurunan tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi produsen rokok premium di tengah perubahan perilaku konsumen.

Baca juga : Harga Emas Antam Catat Kenaikan Terbesar Sejak Mei 2026

Djarum dan Produsen Besar Lainnya Tetap Menguasai Pasar

Selain HM Sampoerna dan Gudang Garam, industri rokok nasional juga dikuasai sejumlah perusahaan besar lainnya. Djarum menjadi salah satu produsen terbesar di Indonesia yang dikenal melalui berbagai merek kretek premium. Perusahaan ini dimiliki oleh konglomerat bersaudara Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono.

Di bawahnya terdapat Bentoel International Investama yang kini kembali menjadi perusahaan tertutup sejak Januari 2024, serta PT Wismilak Inti Makmur Tbk dan Nojorono yang masih memiliki pangsa pasar penting pada sejumlah segmen.

Secara keseluruhan, lima pemain utama tersebut mengendalikan sekitar 92% industri rokok nasional sehingga tingkat konsentrasi pasar tergolong sangat tinggi.

Meski didominasi perusahaan besar, industri rokok nasional masih menghadapi berbagai tantangan. Sepanjang semester I-2025, total volume penjualan industri tercatat sekitar 126,5 miliar batang, turun 4,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, sepanjang 2024 volume industri mencapai sekitar 295,5 miliar batang, hanya tumbuh tipis sekitar 1,1%.

Tekanan utama berasal dari kenaikan tarif cukai hasil tembakau dalam beberapa tahun terakhir yang mendorong harga rokok semakin mahal. Kondisi tersebut menyebabkan banyak konsumen melakukan downtrading, yakni beralih ke merek dengan harga lebih murah.

Selain itu, perusahaan juga mulai mengembangkan produk tembakau alternatif dan bebas asap sebagai sumber pertumbuhan baru di tengah perubahan preferensi konsumen.

Baca juga : Jalan Terjal Danantara Benahi Ringsek BUMN Karya

Rokok Ilegal Jadi Ancaman Serius

Ancaman terbesar bagi industri rokok legal saat ini berasal dari maraknya peredaran rokok ilegal. Pada 2025, pangsa pasar rokok ilegal diperkirakan telah mencapai sekitar 10,8% dari pasar domestik. Jumlah rokok ilegal yang beredar diperkirakan mencapai sekitar 1,5 miliar batang, melonjak sekitar 77,3% dibandingkan 2024.

Tingginya peredaran rokok tanpa pita cukai tidak hanya menggerus pangsa pasar produsen legal, tetapi juga menyebabkan potensi kehilangan penerimaan negara dari cukai yang diperkirakan mencapai sekitar Rp25 triliun per tahun.

Dengan kondisi tersebut, keberhasilan industri rokok ke depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan mempertahankan pangsa pasar, tetapi juga oleh efektivitas pengawasan terhadap peredaran rokok ilegal, strategi inovasi produk, serta daya beli masyarakat yang masih menjadi tantangan utama.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 07 Aug 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 07 Agt 2026  

Editor: Redaksi Daerah
Redaksi Daerah

Redaksi Daerah

Lihat semua artikel

Related Stories