Nasional
Apa Saja Komoditas Venezuela yang Masuk ke RI?
JAKARTA – Serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela berujung pada penahanan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, bersama istrinya. Keduanya kemudian dibawa ke Amerika Serikat, di mana Maduro secara resmi didakwa dalam kasus perdagangan narkoba di New York.
Mengutip Dawn, Venezuela dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Meski demikian, produksi minyak mentahnya masih jauh dari potensi maksimal. Rendahnya produksi tersebut disebabkan oleh tata kelola yang kurang efektif, terbatasnya investasi, serta tekanan sanksi internasional.
Menurut Energy Institute yang berbasis di London, Venezuela menguasai sekitar 17% cadangan minyak global atau setara 303 miliar barel, melampaui Arab Saudi yang merupakan pemimpin Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Namun, minyak bukan komoditas utama yang diimpor Indonesia dari Venezuela.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Perdagangan menunjukkan, impor Indonesia dari Venezuela sepanjang Januari-November 2025 didominasi oleh komoditas sayuran kacang-kacangan kering seperti kacang hijau dan kacang urad, baik sudah dikupas maupun dibelah, dengan nilai mencapai US$6,9 juta.
Selain itu, biji kakao, baik yang masih mentah maupun yang telah disangrai, dengan nilai sekitar US$6,11 juta. Selanjutnya, disusul komoditas lain dengan jumlah yang relatif kecil. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat Venezuela negara asal impor ke-105 bagi Indonesia.
Berikut barang Venezuela paling banyak diimpor RI:
1. Sayuran kacang-kacangan: US$6,9 juta
2. Biji kakao: US$6,1 juta
3. Bubuk kakao murni tanpa tambahan gula atau pemanis: US$777 ribu
4. Aluminium mentah dalam bentuk paduan: US$246,5 ribu
5. Kacang tanah; selain untuk benih, tidak disangrai atau dimasak dengan cara lain, sudah dikupas kulitnya, baik yang utuh maupun pecah: US$40,75 ribu
6. Kabel listrik berisolasi jenis koaksial dan sejenisnya: US$14,9 ribu
7. Karet; divulkanisir, berupa sabuk konveyor atau sabuk transmisi: US$454
8. Pakaian renang wanita atau anak perempuan, bukan dari bahan rajut: US$288
9. Segel dari karet non-seluler: US$258
10. Segel mekanis: US$89
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti ketegangan geopolitik dan Amerika Serikat. Meskipun dampaknya terhadap Indonesia relative terbatas, Apindo mengimbau pengusaha untuk tetap waspada.
Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menegaskan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela perlu dicermati serius, namun tetap disikapi secara proporsional. Dari sisi struktur perdagangan, hubungan dagang Indonesia dengan Venezuela masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan total perdagangan nasional.
Namun, dalam dua tahun terakhir terlihat adanya tren pertumbuhan yang cukup kuat, khususnya dari kinerja ekspor Indonesia. Shinta menyitir data yang mencatat nilai total perdagangan Indonesia-Venezuela pada 2024 mencapai sekitar US$69,2 juta, dengan laju pertumbuhan sebesar 25,4% sepanjang periode 2020-2024.
Pada periode Januari-Oktober 2025, nilai perdagangan Indonesia-Venezuela tercatat mencapai US$82,7 juta, tumbuh 44,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh melonjaknya ekspor Indonesia ke Venezuela.
Shinta menjelaskan ekspor Indonesia melonjak sekitar US$27,7 juta pada 2023 menjadi US$48,8 juta pada 2024 atau tumbuh sekitar 76%. Ekspor Indonesia ke Venezuela kembali mendaki pada Januari-Oktober 2025 menjadi US$68,7 juta, atau naik 80,25% secara tahunan.
Peran Venezuela dalam peta ekspor Indonesia masih relatif kecil. Pada 2024, Venezuela menempati posisi ke-108 dari 201 negara tujuan ekspor Indonesia, dengan pangsa pasar sekitar 0,02% dari total ekspor nasional.
Sementara, komoditas unggulan yang diekspor Indonesia ke Venezuela didominasi oleh manufaktur dan barang konsumsi. Produk tersebut antara lain seperti sabun dan prepart pembersih, kendaraan dan komponennya, serat stapel buatan, pakaian jadi non-rajutan, serta produk kertas dan karton.
Dari sisi impor, nilainya masih tergolong kecil, yakni sekitar US$20,3 juta pada 2024. Nilai impor menurun menjadi sekitar US$14 juta pada Januari-Oktober 2025. Impor berupa komoditas kakao atau cokelat dan sayuran, dengan kontribusi yang sangat kecil terhadap kebutuhan nasional.
Meski dampak langsung terhadap perdagangan dan investasi Indonesia dinilai masih terbatas, Apindo mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diantisipasi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik pada awal tahun ini.
Salah satunya, eskalasi konflik berpotensi menghambat laju ekspor Indonesia ke Venezuela, mengingat pertumbuhan ekspor yang cukup tinggi dalam dua tahun terakhir bergantung pada stabilitas ekonomi dan daya beli di negara tersebut.
Kedua, dari sisi impor, terdapat potensi risiko pada sektoral tertentu. Salah satunya komoditas kakao yang, meskipun kontribusinya relatif kecil secara agregat, perlu diantisipasi oleh pelaku usaha melalui upaya diversifikasi sumber pasokan.
Selain dampak langsung, dunia usaha juga mewaspadai risiko tidak langsung yang muncul melalui sentimen global. Peningkatan ketegangan geopolitik berisiko memperburuk ketidakpastian global, meningkatkan volatilitas harga energi dan komoditas, serta berdampak pada kenaikan biaya logistik, pembiayaan, dan aktivitas transaksi internasional.
Dalam sektor energi, pelaku usaha turut mengamati potensi dampak lanjutan terhadap harga energi dan biaya produksi. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, hal tersebut berpotensi menekan inflasi serta melemahkan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, menjaga stabilitas makroekonomi dan memperkuat koordinasi kebijakan menjadi faktor yang sangat penting.
Menanggapi situasi tersebut, Apindo mendorong sejumlah langkah antisipatif, antara lain dengan memperluas diversifikasi pasar ekspor dan sumber impor, memperkuat manajemen risiko dalam rantai pasok, serta meningkatkan efisiensi dan daya saing industri dalam negeri.
Shinta menegaskan dunia usaha akan terus memantau perkembangan dan eskalasi dinamika geopolitik global. Apindo berharap situasi yang terjadi tidak semakin memperbesar ketidakpastian serta gejolak dalam perekonomian global.
- Baca Juga: Menelusuri Potensi Minyak Venezuela
“Secara keseluruhan, kami memandang bahwa meskipun ketegangan AS-Venezuela perlu diwaspadai, eksposur langsung saat ini relatif terbatas, dan risiko yang ada masih dapat dikelola melalui koordinasi kebijakan yang baik serta kesiapan dunia usaha,” jelasnya Shinta.
Ke depan, dunia usaha akan terus mengamati dan memantau perkembangan serta eskalasi dinamika geopolitik global, dengan harapan situasi tersebut tidak memperparah ketidakpastian dan gejolak ekonomi dunia yang pada akhirnya dapat memengaruhi kinerja sektor usaha di Indonesia.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 06 Jan 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 06 Jan 2026
