Nasional
Green AI Melesat! 4 Saham Ini Diprediksi Bersinar
JAKARTA - Minat terhadap saham perusahaan yang memadukan teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan energi ramah lingkungan semakin meningkat. Memasuki awal 2026, tren investasi ini diprediksi akan melaju lebih cepat, didorong oleh semakin luasnya adopsi konsep green AI di kalangan generasi muda.
Melansir dari Carbon Credits, Senin, 5 Januari 2026, sejumlah perusahaan dengan pendekatan AI dalam efisiensi energi dan pengurangan emisi dipandang sebagai saham yang layak dipantau.
Dalam konteks ini, istilah green AI merujuk pada perusahaan yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendukung tujuan lingkungan, seperti mengoptimalkan penggunaan energi, integrasi sumber terbarukan, serta sistem manajemen energi yang lebih efisien.
4 Saham yang Menjadi Fokus Green AI di Tahun 2026
1. Microsoft (MSFT)

Microsoft dikenal memadukan AI dengan tujuan ramah lingkungan. Perusahaan ini telah berkomitmen menjadi carbon negative pada 2030, serta menggunakan AI untuk memonitor dan mengoptimalkan penggunaan energi di pusat data global. Program AI for Earth yang dijalankan Microsoft juga mendukung penelitian dan pemantauan perubahan iklim pada berbagai ekosistem.
2. Alphabet (GOOGL)

Induk usaha dari Google ini menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi energi di jaringan pusat data dan sistem pembangkit energi terbarukan. Sistem AI Alphabet membantu memperkirakanjumlah permintaan energi, mengatur pasokan tenaga dari sumber bersih, serta mengoptimalkan sistem pendingin di fasilitas komputasi berkinerja tinggi.
3. Stem, Inc. (STEM)

Perusahaan ini beroperasi di sektor manajemen penyimpanan energi, yang memanfaatkan AI dan pembelajaran mesin untuk mengelola baterai, serta sumber energi terbarukan secara real time. Sistem AI Stem ini membantu menentukan waktu yang tepat bagi pengguna maupun penyimpanan energi. Hal ini berguna untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan memaksimalkan pemakaian energi bersih.
4. Itron, Inc. (ITRN)

Itron menyediakan teknologi smart grid seperti meter pintar, sensor, dan perangkat lunak data yang menggunakan AI untuk memantau konsumsi energi secara real time. Integrasi AI membantu utilitas dalam mengurangi pemborosan energi, meningkatkan keandalan jaringan listrik, dan mendukung integrasi sumber energi terbarukan ke dalam grid.
Berdasarkan laporan yang tersedia, penggunaan AI dalam solusi energi diprediksi mendukung penurunan emisi dan peningkatan efisiensi penggunaan energi, sekaligus menciptakan peluang investasi jangka panjang di sektor teknologi serta energi bersih.
Menurut Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) dan laporan industri, AI diperkirakan mampu memainkan peran utama dalam mengurangi emisi dan meningkatkan efisiensi energi, yaitu:
- AI dapat memberikan lebih dari 40% pengurangan emisi yang dibutuhkan pada tahun 2040 jika diterapkan di seluruh sektor energi, transportasi, dan industri.
- Permintaan listrik pusat data yang didorong oleh AI diproyeksikan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030, mencapai sekitar 945 terawatt-jam (TWh), setara dengan penggunaan listrik tahunan Jepang.
- Pasar perangkat lunak Green AI global bernilai $15 miliar dan diproyeksikan mencapai $98 miliar pada tahun 2030.
- Dampak ekonomi global dari AI dapat mencapai $15 triliun pada tahun 2030, dengan sebagian besar berasal dari aplikasi yang meningkatkan keberlanjutan dan efisiensi energi.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Maharani Dwi Puspita Sari pada 06 Jan 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 06 Jan 2026
