NewsRoom
Hadir di 38 Provinsi, SRC Komitmen Terus Gandeng UMKM Lokal
JAKARTA – Jejaring toko kelontong mampu mengemban peran penting dalam memperluas pasar produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melihat peluang tersebut, program Pojok Lokal hadir menyediakan ruang khusus untuk produk UMKM. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan jangkauan konsumen lebih banyak lewat jaringan SRC. Selain itu, program ini berhasil membawa omzet produk UMKM yang dipasarkan mencapai Rp12,9 triliun pada 2026, meningkat 128% dibandingkan 2023 berdasarkan riset Kompas Gramedia (KG) Media 2026.
Direktur PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS), Romulus Sutanto, mengatakan bahwa toko kelontong memiliki potensi untuk memberikan dampak yang lebih luas ketika terhubung dengan pelaku UMKM dan komunitas di sekitarnya. Menurutnya, toko kelontong bukan hanya berperan sebagai tempat masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun juga menjadi pintu masuk bagi produk-produk UMKM untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
“Melalui Pojok Lokal, kami ingin mempertemukan potensi produk lokal dengan jaringan toko yang dekat dengan masyarakat, sehingga peluang pertumbuhan dapat dirasakan oleh pemilik toko maupun pelaku UMKM,” ujar Romulus.
Keberadaan Pojok Lokal juga memberikan nilai tambah bagi pemilik toko dengan menghadirkan pilihan produk yang lebih beragam dan relevan dengan kebutuhan pelanggan. SRC berkomitmen terus mengoptimalkan pemanfaatan jaringan tokonya agar semakin banyak produk UMKM memperoleh kesempatan untuk dikenal dan dipasarkan kepada masyarakat.
Paguyuban, Ruang Belajar dan Kolaborasi
Selain membuka peluang pasar yang lebih luas melalui Pojok Lokal, SRC juga memperkuat kapasitas pemilik toko melalui Paguyuban SRC. Komunitas ini menjadi wadah untuk saling berbagi pengalaman, memperluas jejaring, serta mendorong pengembangan usaha. Kedua inisiatif tersebut menjadi bagian dari komitmen SRC selama 18 tahun dalam mendukung pertumbuhan toko kelontong sekaligus memperkuat kolaborasi di tingkat komunitas.
Riset KG Media 2026 turut menunjukkan tingginya keterlibatan anggota dalam komunitas ini, dimana sekitar 96% Toko SRC aktif mengikuti kegiatan Paguyuban. Selain itu, sebanyak 86% pemilik Toko SRC juga menilai Paguyuban bermanfaat untuk memperluas jaringan bisnis dan menambah ide usaha.
Menurut Romulus, interaksi antarpemilik toko menciptakan ruang untuk tukar pengalaman dan praktik baik yang dapat membantu anggota menghadapi berbagai tantangan usaha.
“Pertumbuhan usaha tidak harus dijalani sendiri. Melalui Paguyuban, pemilik toko dapat belajar dari pengalaman satu sama lain, membangun relasi, dan menemukan peluang baru. Kami ingin komunitas ini menjadi ruang yang membantu para pemilik toko berkembang sekaligus memperkuat hubungan dengan lingkungan sekitarnya,” katanya.
Manfaat dari semangat kebersamaan tersebut turut dirasakan oleh Ana, pemilik Toko SRC Cemara Tujuh sekaligus Ketua Paguyuban SRC di Malang. Ia merupakan pemilik Toko SRC pertama di kota Malang. Tanpa latar belakang bisnis, ia menjadikan pengalamannya bersama SRC sebagai kesempatan untuk belajar, berbagi pengetahuan, dan tumbuh bersama masyarakat.
“Awalnya saya menjalankan toko tanpa memiliki latar belakang bisnis. Banyak hal yang harus saya pelajari dan SRC memberi saya kesempatan untuk terus belajar bersama pemilik toko lainnya. Kini, sebagai Ketua Paguyuban, saya ingin meneruskan manfaat itu dengan mengajak Sahabat SRC berbagi pengalaman dan melakukan kegiatan sosial bagi masyarakat sekitar. Bagi saya, keberhasilan bukan hanya ketika toko kita berkembang, tetapi juga saat bisa membantu orang lain ikut maju,” ujar Ana.
Sejak diinisiasi pada 2008 dengan hanya 57 toko yang tergabung dalam jaringan SRC di Kota Medan, SRC terus berkembang dan tersebar di seluruh kota dan kabupaten di 38 provinsi di Indonesia. Saat ini, jaringan SRC telah mencakup lebih dari 250.000 Toko SRC, 10.000 Paguyuban SRC, dan 6.300 Mitra SRC di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui jaringan toko dan komunitas yang terus berkembang, SRC berkomitmen menghadirkan ekosistem yang mendukung pertumbuhan usaha, memperluas akses pasar, serta mendorong kolaborasi, sehingga membawa dampak lebih luas bagi pengembangan UMKM dan perekonomian nasional.
Tulisan ini telah tayang di halojatim.com oleh Justina Nur Landhiani pada 27 Okt 2026
