Imut! Tarsius, Primata Terkecil Sedunia Ternyata dari Sulawesi

JAKARTA – Siapa sangka, hewan endemik Pulau Sulawesi yakni Tarsius dinobatkan sebagai primata terkecil di dunia. Tak heran, primata satu ini hanya memiliki ukuran tak lebih dari genggaman tangan orang dewasa.

Tarsius jantan memiliki lingkar kepala sekitar 85 mm, panjang tubuh tak lebih dari 160 mm, dan uniknya memiliki panjang ekor antara 135-275 mm atau hampir dua kali lipat panjang badannya. 

Sebagai hewan endemik, Sulawesi menyimpan setidaknya 11 jenis tarsius yang sudah teridentifikasi hingga kini. Habitat asli si mungil ini adalah hutan rimba. Daerah yang paling banyak dihuni tarsius adalah kawasan biosfer Cagar Alam Tangkoko Batuangus, Kecamatan Bitung Utara, Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Sehari-hari, tarsius banyak menghabiskan waktunya di ketinggian pohon-pohon besar. Tarsius juga merupakan satwa nokturnal atau sangat aktif pada malam hari. Pada siang hari, tarsius menjadi lebih pasif dan menghabiskan waktu dengan bersembunyi atau tidur.

Tidak seperti mamalia lainnya, tarsius tidur dengan cara menempel di dahan. Ketika tidur, tarsius bisa memejamkan hanya sebelah matanya dan satu matanya terbuka. Ia memiliki mata yang besar dan bercahaya.

Berbeda dengan hewan nokturnal lain, tarsius tidak memiliki daerah pemantul cahaya atau tapetum lucidum di matanya. Dengan kondisi mata serupa itu, kemampuan melihat dalam kondisi gelap lebih tinggi.

Selain itu, tarsius juga dapat memutar kepalanya hingga 180 derajat ke arah manapun untuk melihat mangsanya, mirip seperti burung hantu.

Meski mungil, tarsius merupakan satwa pelompat ulung. Dengan kaki belakang yang panjangnya dua kali lipat panjang badan dan kepala, ia mempunyai kekuatan untuk melompat hingga jarak tiga meter dengan pola lompatan secara vertikal.

Terancam Punah

Sayangnya, tarsius kerap diburu manusia untuk dijual atau dijadikan hewan peliharaan. Meski belum diketahui jumlah pasti dari tarsius saat ini, maraknya perburuan oleh manusia telah menyebabkan populasi tarsius menjadi makin langka.

Bahkan salah satu spesiesnya, tarsius pumilus sempat dinyatakan punah. Namun pada 2013, peneliti Nanda Grow dari Texas University, menemukan kembali spesies tersebut di habitatnya di kawasan hutan di kaki Gunung Rore Katimbu di perbatasan Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Selain karena perburuan, sifat monogami tarsius ikut menyumbang kelangkaan satwa ini di alam bebas. Artinya, tarsius hanya memilih satu pasangan seumur hidup. Jika pasangannya itu mati, maka ia akan kembali membujang seumur hidupnya.

Untuk melindunginya, pemerintah memasukkan tarsius dalam daftar fauna langka dan dilindungi seperti tercantum di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990. Organisasi konservasi internasional seperti International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menempatkan satwa ini dalam kategori rentan (Vulnarable/VU). (SKO)

Ananda Astri Dianka

Ananda Astri Dianka

Lihat semua artikel

Related Stories