Nasional
Meski Sering Terlupakan, Lumut Punya Peran Penting Selamatkan Bumi
JAKARTA – Tumbuhan, terutama pohon merupakan penyimpan karbon yang sangat efektif dalam ekosistem daratan. Perannya besar dalam menekan laju perubahan iklim karena mampu menyerap dan mengolah gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan karbon monoksida.
Sebagai gambaran, satu pohon saja dapat menampung lebih dari satu ton karbon di batang maupun akarnya. Selain itu, ada juga tumbuhan kecil seperti lumut yang ternyata menjadi “sekutu” penting dalam menghadapi perubahan iklim. Walau sering dianggap sepele, lumut memiliki kemampuan yang cukup kuat untuk menyerap karbon dari udara.
Melansir dari The Rising Nepal, secara botani lumut adalah tanaman kecil berjenis herba non-vaskular yang termasuk dalam divisi Bryophyta. Mereka tidak memiliki akar dan batang sejati, melainkan struktur seperti rizoid untuk menancapkan diri dan menyerap air.
Seiring percepatan perubahan iklim, tumbuhan lunak ini memberikan petunjuk tentang cara meningkatkan ketahanan hutan dalam perlindungan iklim. Penelitian menunjukkan tanah yang ditutupi lumut mengandung sekitar 6,43 miliar ton karbon lebih banyak dibandingkan tanah kosong tanpa tanaman di wilayah semi-kering global.
Jumlah ini setara dengan enam kali lipat emisi karbon global tahunan akibat perubahan penggunaan lahan seperti deforestasi, industrialisasi, pertambangan, dan urbanisasi.
Tanah yang tertutup lumut memiliki kandungan nutrisi penting lebih tinggi dan proses dekomposisi bahan organik yang lebih cepat. Lumut juga membantu mengikat partikel tanah sehingga mencegah erosi, dan rata-rata lebih sedikit kasus penyakit tanaman yang ditularkan melalui tanah dibandingkan dengan tanah yang tidak ditumbuhi lumut.
- Bank Mandiri Gelar Livin’ Fest 2025 di Bali, Hadirkan Expo Sinergi UMKM dan Ekonomi Kreatif
- 5 Cara Mengusir Nyamuk dari Rumah Saat Musim Hujan
- Ternyata Cuci Piring Jadi Sumber Inspirasi Bill Gates dan Jeff Bezos, Ini Rahasianya
Dilansir dari Tech Explorist, lumut memiliki akar dan daun, namun akarnya berbeda dengan tanaman vaskular. Alih-alih akar biasa, lumut memiliki struktur khusus yang disebut rizoid, yang berfungsi seperti akar untuk menancapkan lumut ke permukaan tanah.
Ahli ekologi hutan University of Michigan Peter Reich menjelaskan, “Seperti hutan, lumut menstabilkan mikroklimat dan kondisi fisik di bawahnya. Selain itu, lumut menyediakan mineral dan karbon ke dalam tanah sehingga menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi mikrobioma tanah dibandingkan area tanah kosong.”
Salah satu hal menakjubkan tentang lumut adalah keberadaannya yang luas. Lumut tersebar di area lebih dari 3,6 juta mil persegi (9,4 juta km²), setara dengan ukuran Kanada atau China. Hal ini menegaskan peran penting lumut dalam meningkatkan keanekaragaman hayati tanah dan layanan ekosistem seperti penyerapan karbon.
Yang lebih mengesankan lagi, lumut dapat bertahan di lingkungan yang keras di mana tanaman lain sulit hidup, seperti tanah berpasir, tanah asin, atau daerah dengan curah hujan yang tidak menentu. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam memahami peran alam dalam menghadapi perubahan iklim.
Reich menambahkan, “Temuan ini mendukung gagasan bahwa kita dapat memanfaatkan alam dalam berbagai cara untuk melawan perubahan iklim.”
“Lumut penting karena bahkan tanaman kecil di lingkungan yang keras dapat menyerap dan menyimpan karbon, sama seperti pohon besar di tempat lain. Tanaman kecil maupun besar melakukan hal ini di seluruh dunia,” katanya.
Menurut penelitian dari University of Cambridge yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience (2023), lumut bisa menyerap karbon dioksida (CO₂) empat kali lebih efektif dibandingkan pohon di hutan tropis. Keunggulan ini berasal dari struktur permukaan lumut yang luas dan kapasitas fotosintesisnya yang tinggi, meskipun ukurannya sangat kecil.
Berbeda dari banyak tanaman lain, lumut tidak membutuhkan tanah untuk tumbuh. Ia dapat hidup di permukaan batu, batang pohon, hingga atap bangunan. Kemampuan ini membuat lumut sangat adaptif dan cocok digunakan dalam berbagai skenario urban, misalnya untuk menghijaukan dinding bangunan atau sebagai bagian dari atap hijau yang ramah lingkungan.
- Baca Juga: Negara yang Tukar Utang dengan Proyek Iklim
Kelebihan lain dari lumut yaitu mampu menurunkan suhu sekitarnya secara alami. Studi yang diterbitkan dalam Frontiers in Plant Science (2022) menunjukkan area yang dipenuhi lumut dapat memiliki suhu permukaan hingga 5 derajat Celsius lebih rendah dibandingkan wilayah tanpa vegetasi. Hal ini sangat bermanfaat dalam mengurangi dampak fenomena pulau panas di kawasan perkotaan.
Lumut juga tidak membutuhkan perawatan yang rumit. Tumbuhan ini bisa hidup hanya dengan memanfaatkan kelembapan udara dan hujan alami. Karena itu, lumut menjadi solusi penghijauan yang hemat biaya dan berkelanjutan, terutama bagi kota-kota besar yang kekurangan ruang hijau terbuka.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 23 Nov 2025
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 28 Nov 2025
