Mobil Listrik Bekas Murah Makin Menggoda, Ini 7 Risiko bagi Pembeli

Mobil Listrik Bekas Makin Murah, Waspada 7 Risiko Ini Sebelum Beli! (antara)

JAKARTA – Pasar mobil listrik bekas di Indonesia mulai semakin menarik perhatian karena beberapa model kini dijual dengan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan unit barunya. Meski demikian, harga beli yang murah belum tentu membuat biaya kepemilikannya ikut lebih rendah.

Sebelum membeli mobil listrik bekas, calon konsumen perlu mempertimbangkan berbagai aspek. Beberapa di antaranya adalah tingkat depresiasi, kondisi baterai, masa garansi yang tersisa, rekam jejak servis, ketersediaan fasilitas pengisian daya, serta potensi nilai jual kembali kendaraan.

Di Indonesia, pasar mobil listrik bekas masih tergolong baru. Direktur OLXmobbi Agung Iskandar mengatakan kendaraan listrik hanya mencakup sekitar 1% dari total transaksi mobil bekas di platform tersebut. Salah satu faktor yang membuat pasarnya belum berkembang pesat adalah kekhawatiran konsumen terhadap nilai jual kembali mobil listrik.

“Yang pasang iklan segmen EV terakhir, kita cek itu paling cuman 1 persen dari total iklan yang ada di OLXMobbi. Jadi, kalau dari kita jawabannya masih konsisten yang jual masih dikit sekali untuk segmen ini,” ujar Agung Iskandar dikutip laman Antara, Senin, 31 Agustus 2026.

Lantas, apa saja risiko membeli mobil listrik bekas yang perlu diperhatikan?

BACA JUGA: 5 Keuntungan dan Kerugian Beli Mobil Bekas In This Economy

1. Depresiasi Mobil Listrik Bekas Bisa Tinggi

Salah satu risiko terbesar membeli mobil listrik bekas adalah depresiasi atau penurunan nilai kendaraan.

Menurut Agung Iskandar, sejumlah mobil listrik yang telah beredar selama tiga hingga empat tahun dapat mengalami penurunan harga sekitar 50% dibandingkan harga ketika baru. Kondisi tersebut antara lain terlihat pada model seperti Wuling Air ev dan Hyundai Ioniq 5.

Depresiasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah perkembangan teknologi kendaraan listrik yang berlangsung cepat.

Model baru dapat hadir dengan kapasitas baterai lebih besar, jarak tempuh lebih jauh, fitur lebih lengkap, dan harga yang semakin kompetitif. Kondisi tersebut membuat harga mobil listrik generasi sebelumnya ikut tertekan.

Selain itu, strategi harga produsen juga dapat memengaruhi pasar mobil bekas. Harga khusus untuk unit baru dalam jumlah tertentu dapat membuat selisih harga antara mobil baru dan bekas semakin tipis.

Baca juga : GOTO Didepak MSCI Tapi Fundamental Membaik, Saham Rp50 Bisa Naik?

2. Kondisi Baterai Harus Diperiksa

Baterai merupakan komponen paling penting yang harus diperiksa ketika membeli mobil listrik bekas. Berbeda dengan mobil bermesin pembakaran internal yang memiliki mesin sebagai komponen utama, mobil listrik menggunakan baterai berkapasitas besar sebagai sumber energi utama.

Karena itu, calon pembeli sebaiknya tidak hanya melihat tahun produksi dan jarak tempuh kendaraan. Kondisi kesehatan baterai atau State of Health (SoH) juga penting untuk diperiksa.

Penurunan kondisi baterai dapat memengaruhi kapasitas penyimpanan energi dan jarak tempuh kendaraan. Pada akhirnya, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi harga jual kembali.

Pemeriksaan baterai sebaiknya dilakukan melalui bengkel resmi atau pihak yang memiliki kemampuan diagnostik kendaraan listrik. Calon pembeli juga dapat meminta riwayat penggunaan dan perawatan baterai sebelum melakukan transaksi.

3. Jangan Lupa Cek Sisa Garansi Baterai

Garansi menjadi faktor penting ketika membeli mobil listrik bekas. Setiap produsen dapat memiliki ketentuan garansi yang berbeda, termasuk durasi garansi baterai, batas kilometer, serta persyaratan agar garansi tetap berlaku.

Karena itu, pembeli perlu memastikan apakah garansi baterai masih aktif ketika kendaraan berpindah tangan. Dokumen pembelian, buku servis, riwayat perawatan dan ketentuan garansi perlu diperiksa sebelum transaksi. Jika garansi masih panjang, risiko biaya besar terkait baterai dapat lebih terkendali.

4. Riwayat Servis Tetap Penting

Mobil listrik memang memiliki komponen bergerak yang lebih sedikit dibandingkan mobil bermesin konvensional. Namun, bukan berarti kendaraan listrik bebas dari perawatan.

Calon pembeli tetap perlu memeriksa riwayat servis, kondisi sistem kelistrikan, sistem pendingin baterai, motor listrik, rem, suspensi, ban, serta perangkat pengisian daya.

Riwayat servis di bengkel resmi juga dapat menjadi nilai tambah ketika kendaraan kembali dijual. Semakin jelas riwayat perawatan kendaraan, semakin mudah calon pembeli berikutnya menilai kondisi unit tersebut.

Baca juga : Strategi Nescafe Kuasai Bisnis Kopi Pinggir Jalan, Buka 500 Gerai di 89 Kota

5. Pastikan Infrastruktur Charging Sesuai Kebutuhan

Risiko lain yang sering terlupakan adalah akses terhadap fasilitas pengisian daya.

Sebelum membeli mobil listrik bekas, calon pengguna perlu memastikan apakah rumah memiliki fasilitas yang memungkinkan pemasangan pengisian daya atau apakah terdapat stasiun pengisian kendaraan listrik umum di sekitar tempat tinggal dan lokasi aktivitas sehari-hari.

PLN sendiri terus mengembangkan ekosistem pengisian kendaraan listrik dan menyediakan beberapa jenis charger, mulai dari pengisian standar hingga pengisian cepat.

Bagi pengguna yang dapat melakukan pengisian daya di rumah, kebutuhan charging sehari-hari dapat menjadi lebih praktis. Namun, kebutuhan daya dan instalasi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi rumah serta spesifikasi kendaraan.

6. Biaya Perawatan Lebih Rendah Bukan Berarti Tanpa Biaya

Mobil listrik dikenal memiliki biaya perawatan rutin yang relatif berbeda dibandingkan kendaraan konvensional. Tidak adanya penggantian oli mesin dan sejumlah komponen mesin pembakaran internal dapat mengurangi jenis perawatan tertentu.

Namun, pemilik tetap harus mengeluarkan biaya untuk ban, rem, suspensi, sistem pendingin, perangkat kelistrikan, serta komponen lain yang mengalami keausan.

Biaya terbesar justru dapat muncul ketika komponen utama kendaraan mengalami kerusakan dan tidak lagi ditanggung garansi.

Karena itu, pembeli sebaiknya tidak hanya menghitung harga beli mobil listrik bekas, tetapi juga menyiapkan dana untuk perawatan dan kemungkinan perbaikan.

Baca juga : Kenapa Daging Ayam Amat Populer di Indonesia?

7. Resale Value Masih Menjadi Tantangan

Resale value atau nilai jual kembali menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pasar mobil listrik bekas.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam roadmap industri perusahaan pembiayaan mencatat jika perusahaan pembiayaan menghadapi tantangan dalam menilai risiko dan nilai jaminan kendaraan listrik yang berbeda dari kendaraan konvensional. OJK juga menyoroti perkembangan infrastruktur pengisian daya dan harga kendaraan sebagai faktor yang memengaruhi daya tarik kendaraan listrik.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemudahan pembiayaan maupun transaksi mobil listrik bekas. Artinya, mobil listrik yang terlihat murah ketika dibeli belum tentu memberikan keuntungan ketika dijual kembali beberapa tahun kemudian.

Jadi, Apakah Mobil Listrik Bekas Layak Dibeli?

Mobil listrik bekas dapat menjadi alternatif bagi konsumen yang ingin mendapatkan kendaraan listrik dengan harga lebih rendah dibandingkan unit baru.

Namun, harga beli bukan satu-satunya indikator apakah mobil listrik bekas tersebut murah. Calon pembeli sebaiknya menghitung total biaya kepemilikan dengan mempertimbangkan,

  • Harga beli kendaraan.
  • Kondisi dan kesehatan baterai.
  • Sisa garansi baterai dan kendaraan.
  • Riwayat servis.
  • Jarak tempuh kendaraan.
  • Ketersediaan charger di rumah atau area sekitar.
  • Biaya perawatan.
  • Harga suku cadang.
  • Nilai jual kembali.
  • Ketersediaan bengkel resmi dan layanan purnajual.

Dengan pemeriksaan tersebut, harga mobil listrik bekas yang lebih rendah dapat dilihat secara lebih objektif.

Pasalnya, mobil listrik bekas murah bisa menjadi peluang jika kondisi baterai sehat, garansi masih tersedia, riwayat servis jelas dan model memiliki pasar sekunder yang cukup kuat.

Sebaliknya, harga murah dapat menjadi risiko apabila penurunan harga disebabkan oleh kondisi kendaraan, keterbatasan layanan purnajual atau sulitnya menjual kembali unit tersebut.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 01 Sep 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 01 Sep 2026  

Editor: Redaksi Daerah
Redaksi Daerah

Redaksi Daerah

Lihat semua artikel

Related Stories