Pemerintah AS Layangkan Sejumlah Tuduhan ke TikTok

Larangan TikTok di AS (Istimewa)

Keberadaan aplikasi video pendek milik China, TikTok menjadi polemik di Amerika Serikat (AS). Populernya TikTok di kalangan masyarakat AS membuat pemerintah AS semakin waspada bahwa aplikasi tersebut bisa digunakan mata-mata China untuk mencuri data AS.

Setelah kesaksian CEO Tiktok tak di terima dalam sidang parlemen AS yang dihelat Maret lalu, baru-baru ini Gubernur Montana, Greg Gianforte pada Rabu menandatangani undang-undang untuk melarang TikTok milik China beroperasi di negara bagian itu.

“Pelarangan dilakukan untuk melindungi warga Montana dari dugaan pengawasan China dan menjadikannya negara bagian AS pertama yang melarang aplikasi video pendek populer itu,” dikutip dari Reuters, Jumat, 19 Mei 2023.

Alasan Larangan bagi TikTok

Lebih rinci mengenai alasan mengapa TikTok dilarang, berikut kumpulan tuduhan yang ditudingkan pada TikTok oleh Pemerintah AS. 

1. Manajemen TikTok Terikat dengan Pemerintah China

Direktur FBI Chris Wray mengatakan pada November bahwa TikTok menimbulkan risiko keamanan nasional. Ia menambahkan bahwa perusahaan China pada dasarnya diharuskan melakukan apa pun yang diinginkan pemerintah China dalam hal berbagi informasi atau berfungsi sebagai alat pemerintah China.

Pada Maret lalu, anggota kongres mengatakan bahwa pemerintah China memiliki porsi di ByteDance. Itulah yang memberi Pemerintah China kekuasaan atas TikTok.

Menanggapi pernyataan tersebut, TikTok mengatakan bahwa entitas yang berafiliasi dengan pemerintah China memiliki 1% dari anak perusahaan ByteDance adalah Layanan Informasi Douyin.

Diluar itu, Pemerintah China tidak ada hubungannya dengan operasi global ByteDance di luar China, termasuk TikTok.

2. Alat untuk Pengaruhi Warga AS

Wray dari FBI juga mengatakan operasi TikTok di AS menimbulkan masalah keamanan nasional. Ini terjadi lantaran pemerintah China dapat memanfaatkan aplikasi berbagi video untuk memengaruhi pengguna atau mengontrol.

Adapun risiko yang bisa muncul adalah kemungkinan pemerintah China dapat menggunakan TikTok untuk mengontrol pengumpulan data pada jutaan pengguna atau mengontrol algoritme rekomendasi.

Direktur Badan Keamanan Nasional Paul Nakasone mengatakan pada bulan Maret dia khawatir tentang data yang dikumpulkan TikTok. Pasalnya, algoritme yang dikumpulkan dapat digunakan untuk menyebarkan informasi pengguna dan kontrol pada siapa yang memiliki algoritme.

Dia menegaskan platform TikTok dapat mengaktifkan operasi pengaruh luas karena TikTok dapat secara proaktif memengaruhi pengguna.

Menanggapi tuduhan tersebut, TikTok mengatakan bahw apihaknya tidak mengizinkan pemerintah mana pun untuk memengaruhi atau mengubah model rekomendasinya.

3. Serahkan Data AS ke Pemerintah China

Anggota parlemen menuduh bahwa pemerintah China dapat memaksa ByteDance untuk membagikan data pengguna TikTok dengan menggunakan  undang-undang Intelijen Nasional 2017.

TikTok berargumen bahwa karena didirikan di California dan Delaware, TikTok tunduk pada undang-undang dan peraturan AS.

CEO TikTok bahkan mengatakan perusahaan tidak pernah, dan tidak akan pernah membagikan data pengguna AS dengan pemerintah China.

4. Bahayakan Mental Anak

Pada Maret 2022, delapan negara bagian, termasuk California dan Massachusetts melakukan penyelidikan.

Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui apakah TikTok menyebabkan gangguan kesehatan fisik atau mental pada kaum muda. Selain itu, penyelidikan dilakukan terkait kesadaran perusahaan tentang perannya dalam bahaya tersebut.

Investigasi berfokus pada bagaimana TikTok meningkatkan keterlibatan pengguna muda, termasuk diduga meningkatkan durasi waktu yang dihabiskan di platform dan seberapa sering digunakan.

Menanggapi hal itu, TikTok mengatakan telah mengambil banyak langkah untuk membantu memastikan bahwa remaja di bawah 18 tahun memiliki pengalaman yang aman dan menyenangkan di aplikasi.

5. Mata-Matai Jurnalis

Pada bulan Desember, ByteDance mengatakan beberapa karyawan mengakses data pengguna TikTok dari dua jurnalis secara tidak benar.

Karyawan ByteDance mengakses data tersebut sebagai bagian dari upaya untuk menyelidiki kebocoran informasi perusahaan awal tahun ini. Akses data juga dan bertujuan untuk mengidentifikasi potensi hubungan antara dua jurnalis yakni mantan reporter BuzzFeed dan reporter Financial Times. Sayangnya, aksi tersebut gagal.

Adapun empat karyawan ByteDance yang terlibat dalam insiden tersebut dipecat. Saat ini, para eksekutif perusahaan mengatakan mereka mengambil langkah tambahan untuk melindungi data pengguna. (TrenAsia.com)

Editor: Egi Caniago
Bagikan

Related Stories