Pemerintah RI Diimbau Waspadai Kenaikan Harga Minyak Mentah Dunia Pasca Konflik Iran-Israel

Pemerintah Diminta Waspada Terhadap Dampak Konflik Iran-Israel (null)

JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, meminta Pemerintah untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak mentah dunia usai adanya serangan Iran ke Israel.

Mulyanto menilai bahwa cepat atau lambat konflik Iran-Israel akan berdampak pada semakin naiknya harga minyak mentah dunia. Hal tersebut diperparah dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang sudah menembus angka Rp16.000 per dolar.

"Mengamati pergerakan harga minyak dunia yang terus menanjak tajam sejak awal tahun 2024, apalagi pasca konflik Iran-Israel, Pemerintah perlu segera memikirkan langkah-langkah antisipatif.

Kondisi ini semacam triple shock karena terjadi di tengah kebutuhan migas dalam negeri yang naik di saat momentum bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, serta naiknya dolar AS terhadap Rupiah yang menembus angka Rp16.000 per dolar," kata Mulyanto dilansir Kamis, 18 April 2024.

Mulyanto menegaskan, sebagai negara net importer migas, kenaikan harga migas dunia akan berdampak negatif bagi APBN, apalagi ketika kenaikan tersebut berbarengan dengan naiknya permintaan di dalam negeri serta melonjaknya kurs dolar terhadap rupiah.

Mulyanto minta agar langkah antisipatif Pemerintah tersebut tidak mengambil opsi kebijakan yang merugikan rakyat kecil seperti kenaikan harga bbm atau gas LPG bersubsidi.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan adanya potensi bengkaknya subsidi dan kompensasi Bahan Bakar Minyak (BBM) serta LPG 3 kg akibat adanya konflik Iran vs Israel.

Bahkan Tutuka menyebut, jika disimulasikan yang disusun Kementerian ESDM dan PT Pertamina (Persero), apabila harga Indonesia Crude Price (ICP) di level US$100 per barel dengan kurs Rp15.900 maka anggaran subsidi dan kompensasi BBM serta LPG 3 Kg bakal membludak dari pagu yang disiapkan dalam APBN tahun ini.

Tutuka menyakini konflik Iran dan Israel yang saat ini terjadi tidak akan mengganggu cadangan minyak (BBM) nasional yang saat ini. Namun pemerintah mewaspadai dampak dari konflik tersebut berkaitan dengan pasokan minyak dunia melalui Selat Hormuz.

Tutuka menyebut, cadangan minyak (BBM) nasional yang saat ini berada di kisaran 30 hari. Terlebih PT Pertamina (Persero) telah berkontrak dengan beberapa pemasok BBM dari luar negeri yang berkomitmen untuk tetap memasok BBM sesuai kontraknya.

 

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.com oleh Debrinata Rizky pada 18 Apr 2024 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 19 Apr 2024  

Editor: Redaksi Daerah
Redaksi Daerah

Redaksi Daerah

Lihat semua artikel

Related Stories