Siapa Iman Zanatul Haeri? Guru yang Masuk 22 Tokoh Reset Indonesia

Sosok Iman Zanatul Haeri, Guru yang Masuk 22 Tokoh Reset Indonesia (null)

JAKARTA — Nama Iman Zanatul Haeri tercatat sebagai salah satu dari 22 Sosok Reset Indonesia yang diangkat dalam buku Reset Indonesia.

Ia masuk dalam daftar tersebut berkat konsistensinya memperjuangkan reformasi di sektor pendidikan. Upayanya mencakup advokasi peningkatan kesejahteraan guru, perbaikan tata kelola pendidikan, serta penguatan konsep Trisentra Pendidikan yang digagas Ki Hadjar Dewantara.

Melalui berbagai aktivitas advokasi, keterlibatan dalam penyusunan kebijakan, hingga gerakan masyarakat, Iman dinilai menjadi salah satu tokoh yang mendorong perubahan mendasar bagi dunia pendidikan di Indonesia.

BACA JUGA: 14 Kosmetik Temuan BPOM Ini Mengandung Bahan Dilarang dan/atau Berbahaya

Kiprah Iman Zanatul Haeri

Iman Zanatul Haeri merupakan seorang guru sejarah yang menyelesaikan pendidikan Magister Pendidikan Sejarah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Ia mengajar di Madrasah Aliyah (MA) Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan. 

Selain mengajar, ia aktif dalam berbagai organisasi pendidikan, di antaranya sebagai Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Wakil Sekretaris Himpunan Sekolah dan Madrasah Islam Nusantara (HISMINU), serta Direktur Program MSP Scholence.

Di P2G, Iman dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling vokal menyuarakan persoalan kesejahteraan guru di Indonesia. Ia kerap menerima laporan langsung dari para guru mengenai persoalan upah, status kepegawaian, hingga beban administrasi yang dinilai semakin berat. 

Berbagai kajian dan advokasinya menyoroti rendahnya penghasilan guru honorer, ketimpangan perlakuan antara guru PNS, PPPK, dan honorer, serta berbagai kebijakan pendidikan yang dinilai belum berpihak kepada tenaga pendidik.

Baca juga : Profil Virdian, Eks Ketua BEM Unpad Masuk 22 Sosok Reset Indonesia

Selain isu kesejahteraan, Iman juga aktif mengkritisi implementasi kebijakan pendidikan nasional. Ia beberapa kali menyampaikan pandangan mengenai penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), implementasi kurikulum, hingga pentingnya penyusunan kebijakan pendidikan berbasis data. 

Menurutnya, reformasi pendidikan harus dilakukan secara komprehensif agar mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperbaiki kondisi para guru sebagai ujung tombak pendidikan.

Namanya semakin dikenal secara nasional ketika menjadi Saksi Pemohon dalam sidang uji materi Undang-Undang APBN 2026 di Mahkamah Konstitusi terkait penggunaan anggaran pendidikan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Baca juga : Kembali Tertekan, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini?

Dalam persidangan tersebut, Iman menyampaikan berbagai temuan lapangan P2G mengenai dampak kebijakan terhadap guru, termasuk persoalan pemutusan kontrak guru, ketidakpastian pendapatan, serta bertambahnya beban kerja akibat pelaksanaan program tersebut. Kesaksiannya menjadi salah satu sorotan dalam proses pengujian konstitusional tersebut.

Dalam pemikirannya, Iman mendorong revitalisasi konsep Trisentra Pendidikan yang diperkenalkan Ki Hadjar Dewantara, yakni sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai fondasi pendidikan nasional. 

Ia meyakini ruang kelas bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang perjuangan keadilan sosial melalui pendidikan yang berkualitas, berpihak kepada guru, dan mampu menciptakan perubahan jangka panjang bagi Indonesia.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 14 Jul 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 14 Jul 2026  

Editor: Redaksi Daerah
Redaksi Daerah

Redaksi Daerah

Lihat semua artikel

Related Stories