Nasional
Tips Biar Keuangan Karyawan di 2026 Tetap Aman
JAKARTA - Pengelolaan keuangan bagi para pekerja kantoran diprediksi akan semakin menantang pada 2026. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang tidak stabil, tekanan inflasi, serta pola hidup yang terus berubah. Tanpa perencanaan yang baik, penghasilan bulanan berpotensi habis tanpa meninggalkan tabungan atau investasi untuk jangka panjang.
Menurut perencana keuangan, kestabilan finansial tidak ditentukan oleh seberapa besar gaji yang diterima, melainkan oleh kemampuan mengatur arus keluar-masuk uang secara disiplin dan terencana. Menetapkan tujuan keuangan yang jelas dinilai menjadi dasar penting untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi di masa mendatang.
Dilansir TrenAsia dari Dikutip laman platform investasi saham, Gotrade, Rabu, 31 Desember 2025, berikut sederet tips mengelola keuangan yang dapat diterapkan tahun 2026.
BACA JUGA: 5 Trik Psikologis untuk Mengurangi Keinginan Anda Belanja Terus Menerus
Cara Mengelola Keuangan di Tahun 2026

Tetapkan Target
Menetapkan target keuangan bukan sekadar menyisihkan sisa gaji di akhir bulan. Perencanaan keuangan ideal mencakup pembagian yang seimbang antara kebutuhan harian, dana darurat, serta investasi jangka menengah dan panjang guna melindungi nilai aset dari inflasi.
Dengan target yang terstruktur, pekerja kantoran dapat menentukan prioritas pengeluaran sekaligus menghindari keputusan finansial impulsif yang berpotensi merugikan kondisi keuangan jangka panjang.
Susun Rencana Keuangan
Langkah pertama dalam pengelolaan keuangan adalah mengidentifikasi tujuan jangka pendek dan jangka panjang, seperti dana liburan, biaya pendidikan, hingga persiapan pensiun.
Setelah itu, penting melakukan audit pengeluaran bulanan selama satu hingga tiga bulan untuk mengetahui pola konsumsi yang sebenarnya.
Prinsip SMART, spesifik, terukur, realistis, relevan, dan berbatas waktu dapat digunakan agar target keuangan lebih mudah dicapai. Selain itu, dana darurat idealnya disiapkan sebesar tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan sebelum masuk ke instrumen investasi yang lebih agresif.
BACA JUGA: Kenali Diderot Effect: Jebakan Psikologis yang Memicu Kegagalan Investor
Genjot Tabungan dan Investasi
Para ahli menyarankan metode “menabung di awal”, yakni menyisihkan 10-20 persen gaji segera setelah diterima. Pola anggaran berbasis persentase, seperti 50 persen untuk kebutuhan, 30 persen keinginan, dan 20 persen tabungan atau investasi, juga dinilai efektif menjaga keseimbangan keuangan.
Pembatasan utang konsumtif, termasuk penggunaan kartu kredit dan layanan paylater, menjadi langkah penting agar arus kas tetap sehat. Sementara itu, investasi dapat dimulai sejak dini melalui instrumen yang sesuai dengan profil risiko, seperti reksa dana, saham, atau emas.
Baca juga : Fakta Investor 2025: Gen Z Menang Jumlah, Boomer Menang Aset
Pelajari Literasi Finansial
Kemajuan teknologi finansial memberikan kemudahan dalam menabung dan berinvestasi. Namun di sisi lain, transaksi digital juga meningkatkan potensi belanja impulsif. Pemahaman mengenai time value of money menjadi krusial agar pekerja tidak menunda investasi dan kehilangan potensi pertumbuhan aset.
Disiplin finansial di era digital bukan berarti hidup terlalu hemat, melainkan mengelola pengeluaran sesuai prioritas dan tujuan jangka panjang.
Pengelolaan keuangan yang sehat membutuhkan evaluasi rutin, minimal setiap akhir bulan, untuk menyesuaikan anggaran dengan kondisi terbaru. Konsistensi dalam menjalankan rencana, meski dimulai dari langkah kecil, diyakini mampu memberikan dampak besar dalam jangka panjang.
Memasuki 2026, pengelolaan keuangan yang baik tidak hanya memberikan rasa aman secara finansial, tetapi juga ketenangan dalam menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 04 Jan 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 05 Jan 2026
