Update Kurs! 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini, 24 Juli 2026?

Rupiah Loyo Lagi, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini 24 Juli 2026? (Freepik.com/8photo)

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali berada di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan masih bergerak di kisaran di atas Rp17.900 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Jumat, 24 Juli 2026, mata uang Garuda tercatat melemah 19 poin atau 0,11% sehingga berada di level Rp17.936 per dolar AS di pasar spot.

Pergerakan tersebut sejalan dengan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Bank Indonesia mencatat JISDOR juga terkoreksi 19 poin atau 0,11% ke posisi Rp17.936 per dolar AS, menandakan tekanan terhadap rupiah masih terasa di pasar valuta asing.

Pelemahan rupiah terjadi setelah Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur. Kendati keputusan itu telah diperkirakan pelaku pasar, penguatan dolar AS yang masih didorong sentimen global membuat ruang penguatan rupiah tetap terbatas.

BACA JUGA: Catat! 5 Saham Ini Hijau di Pembukaan LQ45 Hari Ini

Penguatan dolar AS tercermin dari kenaikan Indeks Dolar (DXY) sebesar 0,06% ke level 101,18. Menguatnya dolar terjadi di tengah ekspektasi pasar bahwa suku bunga Amerika Serikat akan tetap berada di level tinggi lebih lama, sehingga aset berbasis dolar masih menjadi pilihan investor.

Pelemahan tidak hanya dialami rupiah. Mayoritas mata uang Asia juga bergerak di zona merah. Yen Jepang melemah 0,21%, baht Thailand turun 0,14%, ringgit Malaysia terkoreksi 0,05%, sementara dolar Singapura melemah 0,01%. Peso Filipina dan dolar Hong Kong juga mencatat pelemahan tipis terhadap dolar AS.

Meski melemah, nilai tukar rupiah masih bertahan di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS sepanjang sepekan terakhir. Hal ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik belum sekuat periode sebelumnya ketika rupiah sempat menembus level tersebut.

Apa artinya bagi masyarakat?

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor apabila berlangsung dalam waktu yang lama. Dampaknya berpotensi dirasakan pada harga bahan baku industri, produk elektronik, hingga komoditas yang diperdagangkan menggunakan dolar AS.

Namun, pelemahan kali ini relatif terbatas dan masih sejalan dengan tren yang terjadi pada mata uang Asia lainnya. Artinya, tekanan lebih banyak berasal dari sentimen global dibandingkan faktor fundamental ekonomi Indonesia.

Bagi investor, perhatian kini tertuju pada arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), pergerakan indeks dolar AS, serta langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Selama dolar AS masih bertahan kuat, pergerakan rupiah diperkirakan tetap akan berada dalam fase volatil.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 24 Jul 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 24 Jul 2026  

Editor: Redaksi Daerah
Redaksi Daerah

Redaksi Daerah

Lihat semua artikel

Related Stories