Saat Konflik Menuju Damai, Mengapa Harga Emas Malah Naik?

Ternyata Ini Alasan Emas Malah Naik Saat Perang Menuju Damai (trenasia.com)

JAKARTA – Harga emas Antam pada Senin, 25 Mei 2026, tercatat melonjak Rp30.000 menjadi Rp2.803.000 per gram. Sementara itu, harga buyback juga ikut naik lebih tinggi ke level Rp2.612.000 per gram. Di pasar internasional, emas spot menguat 1,4% ke posisi US$4.570 per ons seiring meningkatnya optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Kondisi ini membuat banyak orang bertanya-tanya. Selama ini, emas identik sebagai aset safe haven yang biasanya menguat saat situasi geopolitik memanas atau perang pecah. Logikanya sederhana, ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung mencari aset aman seperti emas.

Namun kenyataannya, pergerakan harga emas tidak selalu sesederhana itu. Ada banyak faktor lain yang ikut mempengaruhi, mulai dari ekspektasi pasar, pergerakan dolar AS, suku bunga, hingga bagaimana investor membaca potensi stabilitas ekonomi global setelah konflik mereda.

BACA JUGA: Menilik Peluang dan Risiko Saham BUMI Usai Ambrol ke 180-an

Ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026, harga emas justru turun dari all-time high US$5.602 pada 29 Januari 2026 ke titik terendah US$4.099 pada 23 Maret 2026, koreksi lebih dari 26 persen. 

Setelah sempat pulih, emas kembali ambles. Pada 15 Mei 2026, harga spot anjlok US$111 dalam sehari ke US$4.539, memperpanjang koreksi mingguan 3 persen dan membawa total penurunan dari puncak Januari menjadi lebih dari 17 persen.

Di saat yang bersamaan, IHSG anjlok, rupiah mencetak all-time low, dan seluruh pasar aset berisiko di Asia merah. Seharusnya ini kondisi sempurna untuk emas sebagai safe haven. Tapi harganya malah turun.

Musuh Utama Emas: Yield Tinggi dan Dolar Kuat

Untuk memahami paradoks ini, kamu perlu mengenal dua variabel yang paling menentukan arah emas yakni yield obligasi AS dan nilai tukar dolar. Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil. Tidak membayar kupon seperti obligasi, tidak membayar dividen seperti saham. 

Ketika yield obligasi AS naik, investor yang mau menanggung risiko minimal bisa memarkir uang di obligasi pemerintah AS dan mendapat imbal hasil yang semakin menarik. Memegang emas yang diam saja tiba-tiba terasa kurang efisien.

Edward Meir, analis Marex, menjelaskannya dengan lugas. "Kami melihat kenaikan suku bunga riil di banyak negara di dunia, dan hal itu benar-benar membebani harga emas. Dolar AS juga lebih kuat, dan itu menjadi sentimen negatif," kata Meir dalam keterangannya, dikutip Senin.

Dolar yang menguat memukul emas dari arah berbeda. Emas dihargakan dalam dolar, artinya ketika dolar menguat, investor yang memegang mata uang lain harus membayar lebih mahal untuk membeli emas yang sama. Permintaan dari luar AS otomatis turun.

Inilah yang terjadi saat perang AS-Iran memanas. Konflik di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak. Brent sempat menyentuh US$112 per barel. Harga minyak naik artinya inflasi naik. 

Inflasi naik artinya The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Suku bunga tinggi mendorong yield obligasi naik dan dolar menguat. Kedua faktor itu bersama-sama menekan emas.

“Penguatan Dolar AS sebagai aset safe haven utama justru menekan daya tarik emas. Investor lebih memilih memegang Dolar dan mengejar imbal hasil obligasi yang lebih tinggi,” ujar analis Maxco, Ade Yunus.

Mengapa Damai Membuat Emas Naik?

Ketika optimisme damai AS-Iran muncul — diperkuat Trump di Truth Social pada Sabtu, 23 Mei 2026, yang menyatakan kesepakatan "sebagian besar sudah dinegosiasikan, tinggal finalisasi", harga minyak langsung turun. Brent sempat anjlok di bawah US$100 per barel dari level tertinggi US$112 sebelumnya.

Minyak turun artinya kekhawatiran inflasi mereda. Inflasi mereda artinya tekanan pada The Fed untuk agresif mempertahankan suku bunga tinggi berkurang. Ekspektasi suku bunga turun artinya yield obligasi ikut turun. 

Yield turun artinya biaya kesempatan memegang emas berkurang. Dolar yang tidak lagi menguat mengurangi tekanan harga dari sisi permintaan global. Hasilnya, emas naik bukan karena dunia sedang tidak aman, tapi justru karena dunia mulai kelihatan lebih aman.

Pada 6 Mei 2026, ketika sinyal damai pertama muncul dari Menlu AS Marco Rubio, harga emas spot langsung naik 3 persen menembus US$4.700 dalam satu sesi. Pada 20 Mei ketika harapan damai menguat lagi, emas naik 1 persen ke US$4.532 setelah sempat menyentuh level terendah tujuh minggu.

Bukan Otomatis Sinyal Beli

Ada satu hal penting yang harus dipahami sebelum langsung beli emas hari ini karena grafik sedang naik. Emas hari ini di US$4.570 per ons masih lebih rendah dari ATH-nya di US$5.602 pada Januari 2026, koreksi sekitar 18 persen dari puncak. 

Dalam rupiah, Antam hari ini di Rp2.803.000, masih 11,5 persen di bawah ATH Rp3.168.000 per gram pada 29 Januari. Analis Marc Chandler dikutip Kitco memperingatkan bahwa emas belum menunjukkan sinyal penguatan yang kuat. 

"Emas telah melewati area dukungan di USD 4.500 tetapi sebagian besar pekan kemarin bergerak konsolidasi di atas level tersebut. Untuk mengonfirmasi potensi kenaikan, harga diperkirakan perlu menembus area USD 4.600 per ons," kata Chandler. 

Ia juga memperingatkan risiko penurunan lebih lanjut ke rata-rata pergerakan 200 hari di kisaran US$4.370. Data sepekan 17-24 Mei memperlihatkan pola yang belum stabil. Harga emas berfluktuasi antara US$4.480 dan US$4.566 dengan beberapa sesi mencatat kenaikan US$25 sebelum sesi lain merosot hingga US$84 dalam sehari. 

Dua Skenario ke Depan

Dari kondisi hari ini, ada dua skenario yang menentukan ke mana emas bergerak dalam beberapa pekan ke depan.

Kalau kesepakatan damai AS-Iran ditandatangani, termasuk pembukaan Selat Hormuz, harga minyak akan turun signifikan ke kisaran US$80-85 per barel, yield obligasi AS turun, dolar melemah, dan emas punya ruang untuk kembali ke kisaran US$4.700-4.800.

 J.P. Morgan yang sudah memangkas proyeksi rata-rata emas 2026 dari US$5.708 ke US$5.243 masih menempatkan harga akhir tahun jauh di atas level hari ini. 

Analis Andy Nugraha dari Dupoin Futures mencatat penurunan yield obligasi AS ke 4,31 persen sudah cukup untuk mendorong emas kembali dari US$4.482 ke US$4.648 dalam satu sesi, gambaran betapa sensitifnya emas terhadap pergerakan yield.

Kalau negosiasi gagal atau kembali buntu, Selat Hormuz tetap terganggu, minyak kembali di atas US$110, yield naik lagi, emas bisa kembali tertekan ke US$4.370 atau lebih rendah. 

Yang membuat skenario ini lebih berbahaya dari yang terlihat adalah pasar sudah sebagian pricing in skenario damai. Artinya kalau negosiasi gagal lagi, koreksi emas bisa lebih tajam karena ekspektasi positif yang sudah terbangun harus dibatalkan sekaligus.

Faktor Indonesia yang Sering Diabaikan

Di Indonesia, ada variabel tambahan yang bekerja di luar mekanisme global: rupiah. Harga emas Antam dalam rupiah adalah hasil perkalian harga dolar dikali nilai tukar. Ketika rupiah melemah dari Rp15.400 ke Rp17.700 sejak Oktober 2024, harga emas Antam naik bahkan ketika harga dolar-nya stagnan. 

Ini yang membuat emas menjadi lindung nilai efektif terhadap pelemahan rupiah. Bukan karena emas naik secara absolut, tapi karena rupiah turun membuat nilai emas dalam rupiah terlihat lebih tinggi.

Gubernur BI Perry Warjiyo meyakini rupiah akan menguat mulai Juli-Agustus seiring meredanya permintaan dolar musiman untuk pembayaran dividen dan biaya haji. 

Kalau proyeksi Perry benar dan rupiah kembali ke kisaran Rp16.500-17.000, investor yang beli emas hari ini bisa menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus: harga dolar emas yang belum tentu naik, dan nilai tukar yang memangkas kenaikannya dalam rupiah.

Pelajaran untuk Investor Muda

Emas sebagai safe haven bukan berarti emas selalu naik ketika kondisi global memburuk. Emas naik ketika kondisi mendorong suku bunga riil turun dan dolar melemah, apapun yang jadi penyebabnya.

Dalam kondisi hari ini, emas sedang naik karena harapan damai menekan minyak dan yield obligasi. Tapi harapan bisa berbalik, dan sudah beberapa kali berbalik dalam tiga bulan terakhir. Investor yang masuk hari ini perlu tahu bahwa mereka bukan membeli aset yang aman dari risiko, tapi membeli posisi di tengah negosiasi yang belum selesai.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 25 May 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 26 Mei 2026  

Editor: Redaksi Daerah
Redaksi Daerah

Redaksi Daerah

Lihat semua artikel

Related Stories