Investasi
Jumat, 06 Februari 2026 15:41 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA - Lonjakan harga logam mulia dalam beberapa bulan terakhir sering dikaitkan dengan tekanan ekonomi global, inflasi, serta meningkatnya ketegangan geopolitik.
Namun di balik sentimen pasar itu, ada alasan yang jauh lebih mendasar mengapa emas dan perak bernilai tinggi. Kedua logam mulia tersebut sejatinya bukan berasal dari Bumi, melainkan terbentuk melalui rangkaian peristiwa kosmik ekstrem yang terjadi di luar angkasa.
Berdasarkan kajian ilmiah terbaru, emas dan perak tergolong unsur berat yang tidak bisa tercipta secara alami di dalam planet kita. Bumi tidak memiliki kondisi energi dan tekanan fisika yang cukup ekstrem untuk membentuk inti atom logam-logam mulia tersebut.
BACA JUGA: Cara Bersiap Hadapi Resesi untuk Gen Z Menurut Pakar
Artinya, emas dan perak yang selama ini ditambang manusia sejatinya adalah “warisan kosmik” yang jumlahnya sangat terbatas di Bumi.
Dikutip laman Ensiklopedia Britanica, Rabu, 28 Januari 2026, para ilmuwan sepakat bahwa emas, perak, dan logam berat lainnya terbentuk melalui proses astrofisika langka, terutama penggabungan dua bintang neutron, peristiwa yang dikenal sebagai kilonova.
Baca juga : Harga Emas Meroket, Tiga Saham Tambang Ini Layak Dilirik
Tabrakan kosmik ini melepaskan energi luar biasa besar dan banjir neutron dalam waktu singkat, memungkinkan terbentuknya unsur-unsur berat melalui proses cepat yang disebut rapid neutron capture atau r-process.
Selain kilonova, ledakan supernova dan aktivitas ekstrem dari magnetar, bintang neutron dengan medan magnet sangat kuat, juga diyakini berkontribusi dalam pembentukan logam mulia.
Proses-proses ini hanya terjadi di lingkungan kosmik dengan tekanan dan energi yang jauh melampaui apa pun yang pernah ada di Bumi.
Meski Bumi terbentuk dari awan debu kosmik, hampir seluruh emas dan perak asli planet ini tenggelam ke inti Bumi saat planet masih dalam kondisi cair miliaran tahun lalu. Karena massa jenisnya tinggi, logam-logam tersebut ikut turun bersama besi ke pusat Bumi, jauh dari jangkauan manusia.
Emas dan perak yang kini berada di kerak Bumi justru diyakini berasal dari hujan meteorit raksasa sekitar 3,8 miliar tahun lalu, ketika Tata Surya masih muda.
Tabrakan meteorit kaya logam mulia inilah yang “melapisi” permukaan Bumi dengan emas dan perak dalam jumlah terbatas. Sejak saat itu, jumlahnya praktis tidak bertambah.
Fakta inilah yang membuat logam mulia benar-benar langka secara absolut. Penambangan modern bukan menciptakan pasokan baru, melainkan hanya memindahkan material kosmik purba dari perut Bumi ke permukaan.
Kelangkaan ekstrem tersebut menjadi salah satu fondasi kuat mengapa harga emas dan perak kerap melonjak “gila-gilaan” saat dunia dilanda ketidakpastian.
Dari sudut pandang ilmiah, pasokan emas dan perak bersifat final dan tidak dapat diperbarui, berbeda dengan komoditas lain yang masih bisa diproduksi atau ditingkatkan output-nya.
Baca juga : Harga Emas Meroket, Tiga Saham Tambang Ini Layak Dilirik
Dalam konteks ekonomi modern, kelangkaan kosmik ini diperkuat oleh faktor pasar. Emas tetap menjadi aset lindung nilai (safe haven) utama ketika inflasi meningkat, nilai mata uang tertekan, atau konflik geopolitik memanas. Perak, selain berfungsi sebagai logam mulia, juga memiliki permintaan industri tinggi, terutama untuk panel surya, elektronik, dan teknologi energi bersih.
Kombinasi antara asal-usul yang ekstrem, jumlah yang terbatas sejak miliaran tahun lalu, geopolitik, dan permintaan global yang terus meningkat menjadikan emas dan perak memiliki nilai yang sulit ditandingi.
Dalam perspektif ini, lonjakan harga logam mulia bukan sekadar fenomena spekulatif, melainkan refleksi dari realitas alam semesta itu sendiri.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 28 Jan 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 06 Feb 2026