Rupiah Jadi Mata Uang ASEAN Paling Tertekan, Ini Penyebabnya

Waspada! Rupiah Jadi Mata Uang ASEAN dengan Tekanan Terbesar (https://ik.imagekit.io/tk6ir0e7mng/uploads/2021/03/Kurs-Rupiah-Ditutup-Stagnan-3.jpg)

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin, 31 Agustus 2026. Mengacu pada data Bloomberg hingga pukul 09.18 WIB, rupiah turun 58 poin atau 0,33% ke posisi Rp17.751 per dolar AS.

Penurunan tersebut menjadi yang paling signifikan dibandingkan sejumlah mata uang negara Asia Tenggara lainnya pada awal sesi perdagangan. Pergerakan rupiah tertekan seiring pasar kembali memperhatikan peluang Federal Reserve (The Fed) mempertahankan kebijakan moneter ketat sebagai upaya mengendalikan inflasi.

Di kawasan ASEAN, ringgit Malaysia melemah 0,20%, baht Thailand turun 0,16%, dan peso Filipina terkoreksi 0,12%. Sementara itu, dolar Singapura justru menguat 0,05% terhadap dolar AS.

BACA JUGA: Menguak 5 Alasan Seseorang Mengalami Bullying di Tempat Kerja

Sinyal Hawkish The Fed Tekan Rupiah

Salah satu sentimen utama yang menekan rupiah datang dari pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pidatonya pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Warsh mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga masih dapat menjadi pilihan apabila pembuat kebijakan melihat inflasi belum berada pada jalur menuju target 2% The Fed.

Sikap tersebut menjadi perhatian pasar karena suku bunga AS yang lebih tinggi atau bertahan dalam waktu lama dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Kondisi ini berpotensi mendorong investor mengurangi posisi di aset negara berkembang dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.

Warsh juga menyampaikan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan besar apabila tekanan inflasi belum mereda.

Bagi rupiah, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed menjadi penting karena dapat memengaruhi arus modal asing dan nilai tukar secara langsung.

Harga Minyak Kembali Naik

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent kembali naik hingga sekitar US$90,3 per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian bagi Indonesia karena dapat meningkatkan biaya impor energi. Jika harga minyak bertahan tinggi, kebutuhan dolar AS untuk membayar impor dapat meningkat dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi inflasi domestik apabila kenaikan biaya energi diteruskan ke sektor transportasi, logistik, dan industri.

Dengan demikian, rupiah menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus: dolar AS yang berpotensi menguat akibat sikap hawkish The Fed dan harga minyak yang kembali naik.

Apa yang Berubah Hari Ini?

Pelemahan 58 poin membawa rupiah kembali mendekati level Rp17.800 setelah pada pekan sebelumnya masih bertahan di kisaran Rp17.700-an.

Yang perlu diperhatikan adalah pelemahan rupiah hari ini lebih besar dibandingkan sebagian mata uang ASEAN. Artinya, meskipun faktor global menjadi pemicu utama, investor juga perlu mencermati faktor domestik dan arus modal yang dapat menentukan seberapa besar tekanan diteruskan ke rupiah.

Namun, satu kali pelemahan pada pembukaan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa rupiah telah berbalik menjadi tren pelemahan. Arah perdagangan hingga akhir sesi akan menjadi indikator penting.

Apa Artinya bagi Masyarakat?

Rupiah yang melemah membuat kebutuhan yang menggunakan dolar AS menjadi relatif lebih mahal. Dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat yang membeli barang impor, melakukan perjalanan ke luar negeri, membayar pendidikan internasional, atau memiliki kewajiban dalam dolar AS.

Kenaikan harga minyak juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan biaya transportasi dan logistik apabila berlangsung lama. Dalam jangka panjang, kombinasi rupiah melemah dan minyak mahal dapat meningkatkan tekanan harga barang dan jasa.

Namun, dampak ke konsumen biasanya tidak langsung terjadi hanya karena perubahan kurs dalam satu hari. Pengaruh yang lebih besar muncul jika pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak berlangsung secara konsisten.

Yang Perlu Dipantau Investor

Investor perlu mencermati pernyataan lanjutan pejabat The Fed, data inflasi AS, indeks dolar, dan harga minyak Brent.

Jika inflasi AS kembali tinggi dan memperkuat peluang kebijakan moneter ketat, dolar berpotensi terus mendapatkan dukungan. Di sisi lain, Brent yang bertahan di atas US$90 per barel dapat menambah tekanan terhadap negara-negara importir energi seperti Indonesia.

Sebaliknya, apabila tekanan inflasi AS mereda dan harga minyak kembali turun, ruang bagi rupiah untuk kembali menguat akan terbuka.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 31 Aug 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 02 Sep 2026  

Editor: Redaksi Daerah
Redaksi Daerah

Redaksi Daerah

Lihat semua artikel

Related Stories