Benarkah Kebiasan Begadang Dapat Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung? Ini Penjelasannya

Benarkah Tidur Terlalu Larut Malam Bisa Memicu Penyakit Jantung? Ini Penjelasannya (Freepik.com/@ HelloDavidPradoPerucha)

JAKARTA - Anda tentu pernah mengalami harus tidur larut malam karena mengerjakan tugas, pekerjaan, belajar, dan sebagainya. Tidak dapat dipungkiri, bahwa tidur terlalu larut malam, atau yang umumnya dikenal sebagai begadang, adalah kebiasaan yang sering ditemui di kalangan masyarakat kita, terutama di kalangan yang memiliki tingkat kesibukan yang tinggi.

Meski begitu, Anda tidak boleh menganggap remeh hal tersebut. Tidur adalah salah satu aktivitas yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tubuh.

Seperti yang dilansir dari laman resmi Kemenkes, secara fakta, kebiasaan begadang dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung jika dibandingkan dengan mereka yang menjaga waktu tidur dengan baik. 

Menurut Kongres European Society of Cardiology (ESC), tidur pada rentang waktu antara jam 10 hingga 11 malam terkait dengan penurunan risiko terjadinya penyakit jantung. Fenomena ini dikaitkan dengan adanya irama sirkadian tubuh yang mengatur fungsi fisik dan mental, dan gangguan pada irama ini dapat berdampak pada kesehatan jantung. 

Sebuah studi yang dilakukan di Biobank, Inggris, melibatkan 88.026 partisipan pada tahun 2006 dan 2010, menunjukkan bahwa waktu tidur di tengah malam berkaitan dengan peningkatan risiko terkena serangan jantung, gagal jantung, penyakit jantung iskemik, dan stroke.

Dalam studi tersebut, data waktu tidur dan waktu bangun dikumpulkan selama lebih dari 7 hari menggunakan perangkat accelerometer yang dipasang di pergelangan tangan. Studi tersebut mengukur luaran berupa serangan jantung, gagal jantung, penyakit jantung iskemik, dan stroke. 

Setelah diikuti selama 5.7 tahun, 3.172 partisipan atau sekitar 3.6% dari total mengalami penyakit jantung. Insiden penyakit jantung tertinggi tercatat pada kelompok yang tidur tengah malam, sementara insiden terendah ditemukan pada kelompok yang tidur antara jam 10 hingga 10:59 malam. Seiring dengan itu, terdeteksi peningkatan risiko sebesar 25% untuk terkena penyakit jantung pada kelompok yang tidur tengah malam dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar masih diperlukan untuk memastikan waktu tidur sebagai faktor risiko penyakit jantung. Meskipun begitu, mengatur waktu tidur dapat dianggap sebagai strategi kesehatan masyarakat yang ekonomis dan dapat diterapkan dengan mudah di kalangan masyarakat.

Itu tadi penjelasan mengenai pengaruh tidur terhadap risiko penyakit jantung. Hati-hati!

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Justina Nur Landhiani pada 29 Jan 2024  

Editor: Redaksi Daerah
Redaksi Daerah

Redaksi Daerah

Lihat semua artikel

Related Stories